T’way Air mendarat di Jakarta pada 29 April 2026 lalu memang jadi yang pertama. Tetapi di Indonesia, ini bukan pendaratan pertamanya.
Ada yang menarik dari kehadiran T’way Air di Indonesia. Ketika maskapai asal Korea Selatan ini resmi membuka rute langsung Jakarta-Seoul pada 29 April 2026, banyak yang menyambutnya seolah ini adalah debut pertama mereka di Tanah Air.
Padahal, bagi mereka yang jeli, ini bukan kunjungan pertama. T’way Air dan Indonesia punya sejarah yang lebih panjang dari yang kebanyakan orang sadari. Dan justru di situlah letak cerita yang menarik.
Sebelum nama T’way Air ramai diperbincangkan di Jakarta, maskapai ini sudah lebih dulu mengenal Indonesia lewat Bali.
Melansir dari situs resmi PT Jasa Angkasa Semesta (JAS Airport Services), pada 25 September 2025, T’way Air secara resmi kembali beroperasi di Indonesia dengan membuka rute langsung Cheongju-Denpasar menggunakan Boeing 737 MAX 8 berkapasitas 180 penumpang, dua kali seminggu setiap Kamis dan Minggu.
(BACA JUGA: T’way Air Tawarkan Jakarta-Seoul Cuma IDR 2 Jutaan? Eits, Nanti Dulu!)
Kata “kembali” dalam rilis resmi JAS bukan sekadar basa-basi. Ini mengonfirmasi bahwa T’way Air pernah hadir di Indonesia jauh sebelum 2025, lalu sempat absen dan akhirnya memilih untuk kembali.
Bali menjadi pintu pertama yang mereka ketuk ulang sebelum berani melangkah lebih jauh ke Jakarta.
Tidak butuh waktu lama bagi T’Way Air untuk membuktikan bahwa Bali hanyalah awal. Kurang dari setahun setelah rute Cheongju-Denpasar beroperasi, mereka mengumumkan ekspansi yang jauh lebih besar.
Melansir dari Seoul Economic Daily, T’way Air resmi membuka rute penerbangan langsung Incheon-Jakarta yang beroperasi lima kali seminggu. Yakni setiap hari Senin, Rabu, Jumat, Sabtu dan Minggu, menjadikan T’way Air sebagai LCC Korea pertama yang melayani rute “gemuk” ini.
Ada konteks penting di balik keberhasilan T’way mendapatkan rute ini. Yakni karena pemerintah Korea Selatan melakukan redistribusi hak terbang untuk mencegah monopoli setelah merger besar antara Korean Air dan Asiana Airlines.
T’Way Air berhasil mengamankan traffic rights tersebut di tengah persaingan yang ketat. Dengan kata lain, mereka tidak hanya beruntung mendapat slot kosong. Mereka berjuang untuk mendapatkannya.
Ekspansi Indonesia bukanlah gerakan tiba-tiba. Ia adalah bagian dari strategi besar T’way Air untuk memperkuat posisinya di Asia Pasifik.
Maskapai ini sudah beroperasi sejak 2010 dan kini melayani sekitar 60 destinasi di seluruh dunia, dengan armada yang terus berkembang. Termasuk Boeing 737-800, Boeing 737 MAX 8, hingga Airbus A330-300 untuk rute-rute jarak menengah dan jauh.
(BACA JUGA: Koper Kamu Rusak Atau Ketinggalan Saat Naik Pesawat? Ini yang Harus Kamu Lakukan)
Indonesia sendiri adalah pasar yang sulit diabaikan. Melansir dari 2024 Global Hallyu Survey yang dirilis Kementerian Kebudayaan Korea Selatan, Indonesia mencatat tingkat favorability tertinggi terhadap konten budaya Korea di antara 26 negara yang disurvei, yakni sebesar 86,3 persen.
Dan antusiasme itu tidak berhenti di layar ponsel. Sebelum pandemi, sebanyak 23,3 persen wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan mengaku bahwa Hallyu adalah alasan utama mereka melakukan perjalanan tersebut.
Pasar sebesar ini, dengan koneksi budaya yang sekuat ini, adalah magnet yang nyata bagi maskapai mana pun yang ingin tumbuh di kawasan.
Jadi, apa artinya semua ini bagi kamu sebagai calon penumpang?
Perjalanan T’way Air di Indonesia, dari Bali yang sempat terhenti lalu kembali pada 2025, hingga Jakarta yang kini resmi terhubung langsung ke Seoul, menunjukkan bahwa maskapai ini memandang Indonesia bukan sebagai destinasi coba-coba.
Melainkan sebagai pasar jangka panjang yang serius. Tapi tentu, kehadiran sebuah maskapai dan kualitas penerbangan yang mereka tawarkan adalah dua hal yang berbeda.
Sebelum kamu tergoda dengan harga tiket Jakarta-Seoul yang mulai dari IDR 2 jutaan, ada baiknya kamu mengenal T’way Air lebih jauh. Bukan hanya soal rute dan jadwalnya, tapi juga soal rekam jejaknya.
(Rendy Aditya, foto: simpleflying.com)
