Dialog Drama Cina Kerap di-Dubbing, Ternyata Ini Alasannya!

Di balik visual yang memikat, ternyata banyak drama Cina tidak menggunakan suara asli aktor dan aktrisnya. Melainkan di-dubbing.

Fenomena drama Cina dalam beberapa tahun terakhir memang sulit diabaikan. Dari serial panjang hingga format baru seperti vertical drama, konten asal Cina semakin mendominasi berbagai platform OTT.

Menurut data yang dirilis oleh iQIYI dan Tencent Video, konsumsi konten drama Cina di Asia Tenggara terus meningkat, bahkan menunjukkan pertumbuhan dua digit dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, laporan dari Statista juga menunjukkan bahwa pasar video streaming Cina menjadi salah satu yang terbesar secara global. Meski terlihat seperti tren baru, sebenarnya drama Cina sudah lebih dulu “menginvasi” penonton Indonesia sejak awal 2000-an.

Sebut saja judul-judul seperti At the Dolphin Bay, Romance in the Rain, hingga yang paling ikonik, Meteor Garden, semuanya sempat jadi fenomena tersendiri.

Namun, di balik visual yang rapi dan produksi yang terasa besar, ada satu fakta menarik yang mungkin belum banyak disadari. Suara yang kita dengar di banyak drama Cina bukanlah suara asli aktor dan aktrisnya.

Praktik dubbing atau pengisian suara ulang ini sudah menjadi standar dalam industri drama Cina. Melansir dari berbagai laporan industri dan wawancara produksi yang dihimpun oleh Sixth Tone, sebagian besar drama terutama yang tayang di televisi nasional dan platform besar, melalui proses dubbing di tahap post-production.

Artinya, meskipun aktor tetap berakting di lokasi syuting, dialog yang akhirnya didengar penonton sering kali direkam ulang di studio, baik oleh aktor itu sendiri maupun oleh voice actor profesional.

Lalu, kenapa praktik ini begitu umum? Jawabannya ternyata cukup kompleks dan mencerminkan cara industri ini bekerja.

(BACA JUGA: ‘The Devil Wears Prada 2’ Terancam Diboikot di Cina, Apa Penyebabnya?)

FAKTOR STANDARDISASI BAHASA

Cina memiliki banyak dialek, sehingga penggunaan Mandarin standar (Putonghua) menjadi penting untuk memastikan semua penonton bisa memahami dialog, sesuai regulasi dari National Radio and Television Administration.

FAKTOR TEKNIS PRODUKSI

Banyak drama, terutama genre historical atau wuxia, syuting di lokasi terbuka dengan tingkat noise tinggi, sehingga audio asli sering tidak layak digunakan.

EFISIENSI PRODUKSI

Jadwal syuting yang cepat membuat proses rekaman suara tidak selalu jadi prioritas di lokasi. Keempat, soal kecocokan karakter. Tidak semua aktor memiliki suara yang sesuai dengan karakter yang dimainkan, sehingga dubbing membantu menyempurnakan persona di layar.

PENYESUAIAN DIALOG

Terakhir, dubbing juga memudahkan proses penyesuaian dialog, termasuk untuk kepentingan sensor atau editing tanpa harus melakukan syuting ulang.

Pada akhirnya, praktik dubbing ini menunjukkan satu hal. Betapa terstrukturnya industri hiburan Cina dalam menjaga kualitas dan konsistensi. Alih-alih sekadar menangkap momen di lokasi, produksi drama di sana dirancang sebagai proses berlapis.

Di mana visual, suara dan emosi disempurnakan hingga tahap akhir. Hasilnya, penonton mendapatkan pengalaman yang terasa mulus, bahkan ketika di balik layar, banyak elemen yang sebenarnya dibangun ulang.

(Annisa Larasati, foto: about.netflix.com)

Share

Related Post

5 Sorotan Terbesar dari ‘Tony Awards 2026’

Restoran Museum Jadi Tren Baru di New York