Berbagai penelitian menunjukkan bahwa generasi muda mengaitkan kebahagiaan dengan hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selama bertahun-tahun, banyak orang tumbuh dengan definisi kebahagiaan yang kurang lebih sama: memiliki karier yang sukses, penghasilan tinggi, rumah impian, dan berbagai pencapaian besar lainnya.
Namun, bagi banyak millennials dan Gen Z saat ini, definisi tersebut perlahan mulai bergeser. Alih-alih mengejar gambaran hidup yang terlihat sempurna dari luar, semakin banyak generasi muda yang menghubungkan kebahagiaan dengan hal-hal yang terasa lebih dekat, lebih personal dan lebih sederhana.
Bukan lagi sekadar soal “punya lebih banyak”, tetapi tentang merasa cukup, memiliki ketenangan, dan menjalani hidup yang terasa bermakna.
Perubahan cara pandang ini bahkan mulai terlihat dalam berbagai penelitian global yang mencoba memahami apa sebenarnya yang dicari generasi muda saat ini.
(BACA JUGA: Bukan Menikah, Standar Kebahagiaan Millennials Ternyata Hanya Soal Hidup Cukup)
BUKAN LAGI TENTANG JADI YANG PALING SUKSES
Salah satu temuan yang paling menarik datang dari Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025. Dalam survei yang melibatkan lebih dari 23 ribu responden di 44 negara, Deloitte menemukan bahwa millennials dan Gen Z tidak lagi mendefinisikan kehidupan yang baik hanya melalui uang atau jabatan.
Sebaliknya, mereka cenderung mencari keseimbangan antara tiga hal: uang, makna hidup (meaning) dan kesejahteraan mental (well-being).
Bahkan sekitar 89 persen Gen Z dan 92 persen millennials menyebut bahwa memiliki purpose atau tujuan hidup merupakan hal yang penting bagi kepuasan hidup dan kesejahteraan mereka.
Artinya, pertanyaan yang kini banyak muncul bukan lagi sekadar “berapa banyak yang bisa saya hasilkan?”, tetapi juga “apakah hidup yang saya jalani terasa berarti?”.
KEBAHAGIAAN KINI TERLIHAT LEBIH DEKAT
Menariknya, ketika berbicara soal kebahagiaan, banyak generasi muda tidak lagi membayangkan pencapaian besar yang jauh di masa depan.
Sebaliknya, kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Mulai dari memiliki waktu untuk tidur cukup, bisa menikmati akhir pekan tanpa pekerjaan, menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat, membaca buku, menonton film favorit, atau memiliki ruang untuk menjalani hobi tanpa rasa bersalah.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya popularitas berbagai konsep seperti slow living, soft life, hingga JOMO (Joy of Missing Out) yang semakin banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir.
Jika sebelumnya budaya populer mendorong orang untuk selalu sibuk dan produktif, kini semakin banyak yang justru melihat ketenangan sebagai sesuatu yang berharga.
UANG TETAP PENTING TAPI BUKAN ALAT PAMER
Meski begitu, bukan berarti millennials dan Gen Z tidak peduli pada uang. Justru sebaliknya. Survei Deloitte menunjukkan bahwa rasa aman secara finansial memiliki hubungan yang sangat kuat dengan tingkat kebahagiaan seseorang.
Responden yang merasa kondisi keuangannya aman cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang merasa tidak stabil secara finansial.
Namun, ada perbedaan penting dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Jika dulu kekayaan sering diasosiasikan dengan status atau simbol kesuksesan, banyak generasi muda kini melihat uang sebagai alat untuk mendapatkan ketenangan.
Mereka menginginkan stabilitas, fleksibilitas dan kemampuan untuk menjalani hidup tanpa terus-menerus diliputi kecemasan finansial.
Sebuah survei Intuit pada 2025 bahkan menemukan bahwa 64 persen Gen Z menganggap peace of mind lebih penting dibanding menjadi kaya. Selain itu, sebagian besar responden lebih memilih kualitas hidup yang baik dibandingkan sekadar memiliki pendapatan yang lebih besar.
SEDIKIT TEMAN TAPI LEBIH BERMAKNA
Hal lain yang semakin terlihat adalah bagaimana generasi muda memandang hubungan sosial.
Jika sebelumnya memiliki lingkaran pertemanan yang luas sering dianggap sebagai indikator kehidupan sosial yang sukses, kini banyak millennials dan Gen Z justru lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas.
Mereka cenderung memilih hubungan yang terasa autentik, aman dan suportif dibanding mempertahankan koneksi yang hanya bersifat formal atau performatif.
Tidak mengherankan jika banyak orang mulai merasa lebih bahagia menghabiskan malam bersama beberapa teman dekat dibanding menghadiri acara besar dengan banyak orang.
Dalam berbagai penelitian tentang kesejahteraan psikologis, hubungan yang sehat dan rasa memiliki (sense of belonging) memang secara konsisten menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap kebahagiaan jangka panjang.
(BACA JUGA: Dikejar Target Financial Freedom, Bikin Gen Z dan Millennials Cemas)
PANDEMI IKUT MENGUBAH CARA MELIHAT KEBAHAGIAAN
Perubahan ini juga tidak bisa dilepaskan dari dampak pandemi. Menurut berbagai laporan dari Pew Research Center, pandemi membuat banyak orang terutama generasi muda, untuk mengevaluasi kembali prioritas hidup mereka.
Rumah berubah menjadi tempat untuk bekerja, belajar, beristirahat, hingga membangun hubungan yang lebih dekat dengan keluarga.
Pengalaman tersebut membuat banyak orang mulai menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari aktivitas yang besar atau spektakuler. Dalam banyak kasus, kebahagiaan justru ditemukan dalam rutinitas sederhana yang sebelumnya dianggap biasa.
Mungkin karena itulah berbagai aktivitas seperti memasak, membaca, berkebun, journaling, hingga menikmati waktu sendiri kini terasa jauh lebih bernilai dibandingkan sebelumnya.
SADAR AKAN KEBAHAGIAAN TAPI JUGA PALING CEMAS
Ironisnya, millennials dan Gen Z juga merupakan generasi yang paling sering membicarakan kesehatan mental, burnout dan kesejahteraan emosional.
Laporan Deloitte menunjukkan bahwa banyak responden masih mengalami tingkat stres dan kecemasan yang tinggi, terutama terkait pekerjaan, biaya hidup dan masa depan finansial mereka.
Di satu sisi, mereka semakin sadar bahwa kebahagiaan tidak bisa hanya diukur melalui pencapaian eksternal. Namun, di sisi lain, mereka juga hidup dalam era yang penuh tekanan, perbandingan sosial dan ketidakpastian ekonomi.
Karena itulah definisi kebahagiaan mereka ikut berubah. Alih-alih mengejar kehidupan yang terlihat sempurna, banyak millennials dan Gen Z kini lebih tertarik membangun kehidupan yang terasa nyaman untuk dijalani setiap hari.
Kehidupan yang memberi ruang untuk beristirahat, memiliki hubungan yang sehat, merasa aman secara finansial dan tetap memiliki waktu untuk diri sendiri.
Karena bagi banyak generasi muda saat ini, kebahagiaan tidak lagi selalu terlihat seperti pencapaian besar yang menunggu di masa depan. Terkadang, kebahagiaan justru hadir dalam hal-hal kecil yang sudah ada di sekitar mereka hari ini.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/pvproductions)
