Orang Betah di Rumah Apakah Aneh? Ini Kata Psikolog!

Menurut ahli psikologi, betah di rumah justru jadi cara baru bagi banyak orang untuk menjaga kesejahteraan mental.

Bagi sebagian orang, akhir pekan ideal mungkin diisi dengan menghadiri konser, mencoba restoran baru, atau bertemu teman-teman.

Namun bagi sebagian lainnya, kebahagiaan justru datang dari aktivitas yang jauh lebih sederhana. Membaca buku di sofa, menonton serial favorit, merawat tanaman, atau menikmati secangkir kopi di rumah tanpa agenda apa pun.

Kalau kamu termasuk kelompok kedua, percayalah. Kamu tidak sendirian.

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah homebody semakin sering muncul dalam berbagai diskusi gaya hidup dan psikologi.

Sebutan ini merujuk pada orang yang merasa nyaman menghabiskan waktu di rumah dan tidak selalu membutuhkan aktivitas di luar untuk merasa bahagia. Menariknya, preferensi tersebut kini semakin umum ditemukan, terutama di kalangan millennials dan Gen Z.

Lalu, apa yang membuat sebagian orang merasa lebih bahagia di rumah?

(BACA JUGA: Mengenal Hygge, Cara Hidup Orang Skandinavia yang Tidak Butuh Validasi)

RUMAH MEMBERIKAN RASA AMAN DAN KENDALI

Menurut para peneliti di bidang environmental psychology atau psikologi lingkungan, rumah memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat tinggal.

Rumah sering kali berperan sebagai psychological sanctuary alias ruang yang memberikan rasa aman, familiar dan berada dalam kendali pribadi seseorang.

Berbeda dengan dunia luar yang penuh ketidakpastian, rumah menawarkan lingkungan yang dapat diprediksi.

Kita bisa mengatur pencahayaan, memilih musik yang ingin didengar, menentukan kapan ingin berinteraksi dengan orang lain, hingga menciptakan rutinitas yang membuat diri merasa nyaman.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Environmental Psychology menunjukkan bahwa lingkungan yang memberikan rasa kontrol dan kenyamanan dapat membantu menurunkan tingkat stres sekaligus meningkatkan kesejahteraan emosional.

Dalam konteks ini, tidak mengherankan jika banyak orang merasa lebih tenang setelah menghabiskan waktu di rumah.

DUNIA MODERN MEMBUAT KITA SEMAKIN LELAH

Ada alasan lain mengapa rumah terasa semakin menarik saat ini. Salah satunya adalah karena dunia luar menjadi jauh lebih bising dibandingkan sebelumnya.

Mulai dari notifikasi yang tidak pernah berhenti, media sosial yang terus bergerak, kemacetan, tuntutan pekerjaan, hingga tekanan untuk selalu produktif dan terhubung, semuanya menciptakan tingkat stimulasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu.

American Psychological Association (APA) mencatat bahwa paparan stres dan informasi yang terus-menerus dapat meningkatkan kelelahan mental.

Dalam kondisi tersebut, banyak orang secara alami mencari ruang yang memungkinkan mereka untuk beristirahat dari berbagai rangsangan tersebut.

Psikolog menyebut kondisi ini sebagai social fatigue atau kelelahan sosial. Setelah menghabiskan energi untuk bekerja, berkomunikasi dan beradaptasi dengan berbagai situasi sepanjang hari, berada di rumah menjadi cara untuk mengisi ulang energi tersebut.

BETAH DI RUMAH TIDAK SELALU INTROVERT

Salah satu mitos terbesar tentang homebody adalah anggapan bahwa mereka pasti introvert.

Padahal, menurut para ahli kepribadian, introversi dan kebiasaan menghabiskan waktu di rumah adalah dua hal yang berbeda.

Introvert berkaitan dengan bagaimana seseorang memperoleh dan mengelola energi sosial, sementara homebody lebih berkaitan dengan preferensi terhadap lingkungan dan aktivitas.

Seseorang bisa saja sangat ekstrovert, menikmati pesta dan interaksi sosial, tetapi tetap memilih menghabiskan sebagian besar waktu luangnya di rumah karena merasa nyaman. Sebaliknya, ada pula introvert yang senang bepergian dan sering berada di luar rumah.

Dengan kata lain, betah di rumah bukanlah indikator kepribadian tertentu, melainkan salah satu bentuk preferensi gaya hidup.

PERUBAHAN DARI FOMO KE JOMO

Perubahan ini juga terlihat dalam cara banyak orang memandang kehidupan sosial.

Jika beberapa tahun lalu istilah FOMO (Fear of Missing Out) mendominasi percakapan budaya populer, kini semakin banyak orang yang mengenal konsep JOMO atau Joy of Missing Out.

Konsep ini menggambarkan perasaan puas dan bahagia ketika seseorang memilih untuk tidak mengikuti setiap acara, tren, atau aktivitas yang sedang berlangsung.

Penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Social Psychology menemukan bahwa individu yang mampu menerima pilihan mereka untuk melewatkan suatu aktivitas cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang terus-menerus merasa takut tertinggal.

Bagi banyak orang, melewatkan pesta demi membaca buku atau menonton film di rumah tidak lagi dianggap membosankan. Justru sebaliknya, hal tersebut menjadi bentuk kebebasan untuk memilih aktivitas yang benar-benar mereka nikmati.

(BACA JUGA: Do Nothing Day, Hari yang Sah untuk Tidak Melakukan Apa-apa)

PANDEMI TURUT MENGUBAH HUBUNGAN KITA DENGAN RUMAH

Pandemi COVID-19 juga menjadi salah satu faktor yang mengubah cara banyak orang memandang rumah.

Menurut laporan dari Pew Research Center, periode pandemi membuat rumah mengambil peran yang jauh lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. Rumah tidak lagi hanya menjadi tempat beristirahat setelah bekerja, tetapi juga ruang untuk bekerja, belajar, berolahraga, bersosialisasi, hingga menjalankan berbagai hobi.

Akibatnya, banyak orang mulai berinvestasi untuk membuat rumah terasa lebih nyaman dan personal. Mulai dari menciptakan sudut baca, membangun ruang kerja yang lebih menyenangkan, hingga menjadikan rumah sebagai tempat untuk melakukan berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan di luar.

Perubahan tersebut membuat banyak orang menyadari bahwa mereka sebenarnya menikmati menghabiskan waktu di rumah lebih dari yang mereka kira.

APAKAH JADI HOMEBODY BERBAHAYA?

Meski demikian, para ahli juga mengingatkan bahwa ada perbedaan antara menikmati waktu di rumah dan mengisolasi diri dari dunia luar.

Jika seseorang masih dapat menjalani aktivitas sehari-hari, menjaga hubungan sosial yang sehat, dan memilih berada di rumah karena memang menikmatinya, kondisi tersebut umumnya tidak menjadi masalah.

Sebaliknya, jika seseorang mulai menghindari semua interaksi sosial karena rasa takut, kecemasan, atau kesulitan emosional yang berlebihan, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa ada masalah yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Perbedaannya terletak pada pilihan. Menikmati waktu di rumah adalah preferensi. Sementara merasa tidak mampu keluar rumah merupakan hal yang berbeda.

Menemukan Kenyamanan dalam Kesederhanaan

Di tengah budaya yang sering mengagungkan kesibukan, produktivitas dan kehidupan sosial yang aktif, menjadi homebody mungkin terlihat bertolak belakang dengan ekspektasi tersebut. Namun, psikologi menunjukkan bahwa tidak ada satu cara yang benar untuk menghabiskan waktu.

Sebagian orang menemukan energi di tengah keramaian. Sebagian lainnya menemukannya dalam keheningan rumah mereka sendiri.

Dan mungkin itulah alasan mengapa menjadi homebody tidak lagi dianggap aneh. Di dunia yang semakin cepat dan penuh distraksi, kemampuan untuk merasa nyaman dengan diri sendiri justru menjadi bentuk kemewahan yang semakin berharga.

(Annisa Larasati, foto: magnific.com/benzoix)

Share