Seorang peneliti keamanan berhasil menemukan celah pada sistem tiket yang digunakan hampir di seluruh festival musik Amerika berkat Claude.
Kecerdasan buatan (AI) kembali menunjukkan kemampuannya di luar aktivitas sehari-hari seperti menulis atau membuat gambar.
Kali ini, model AI Claude Opus 4.7 dari Anthropic membantu seorang peneliti keamanan siber menemukan celah pada sistem Front Gate Tickets, platform penjualan tiket yang digunakan oleh hampir seluruh festival musik besar di Amerika Serikat.
Seperti Lollapalooza, Bonnaroo, South by Southwest (SXSW) dan Austin City Limits. Temuan tersebut pertama kali dilaporkan oleh WIRED.
Peneliti keamanan bernama Ian Carroll ini awalnya menemukan indikasi adanya celah SQL injection, yaitu teknik yang memungkinkan seseorang mengirimkan perintah ke database melalui sebuah situs web jika sistem keamanannya memiliki kelemahan.
Namun, celah tersebut masih terlindungi oleh web application firewall sehingga tidak mudah dimanfaatkan. Carroll kemudian meminta bantuan Claude untuk mencari pendekatan lain.
Menurutnya, AI tersebut mampu menghasilkan teknik baru berupa nested SQL query yang berhasil melewati lapisan perlindungan tersebut. Bahkan, Carroll mengaku ia perlu mempelajari kembali penjelasan Claude untuk memahami bagaimana metode tersebut bekerja.
Dengan memanfaatkan celah itu, Carroll berhasil memperoleh akses tingkat superadministrator ke sistem internal Front Gate.
(BACA JUGA: Live Nation dan Ticketmaster Akan Terpisah? Ini yang Sedang Terjadi di Industri Musik)
Secara teori, akses tersebut memungkinkannya menerbitkan tiket apa pun, termasuk tiket VIP bernilai ribuan dolar, untuk hampir semua festival yang menggunakan platform tersebut. Ia juga menemukan potensi akses terhadap jutaan data pelanggan dan staf perusahaan.
Meski begitu, Carroll menegaskan bahwa ia tidak pernah benar-benar menerbitkan tiket ataupun memanfaatkan akses tersebut untuk keuntungan pribadi.
Sebagai gantinya, ia melaporkan temuannya kepada Front Gate melalui mekanisme responsible disclosure, praktik standar dalam dunia keamanan siber di mana peneliti melaporkan kerentanan kepada perusahaan agar dapat diperbaiki sebelum disalahgunakan oleh pihak lain.
Front Gate menyatakan telah memperbaiki kerentanan tersebut dalam waktu kurang dari 24 jam setelah menerima laporan.
Perusahaan juga mengatakan tidak menemukan bukti bahwa celah itu pernah dieksploitasi oleh pihak lain maupun menyebabkan kebocoran data pelanggan.
Namun, Carroll berpendapat bahwa sulit memastikan apakah kerentanan tersebut benar-benar belum pernah dimanfaatkan sebelumnya.
Ia juga menyoroti minimnya perlindungan tambahan, seperti autentikasi dua faktor, pada akun administrator yang berhasil diambil alih selama pengujian.
Kasus ini juga menarik perhatian karena Carroll merupakan peserta Cyber Verification Program milik Anthropic, sebuah program yang memberikan akses kepada peneliti keamanan terverifikasi untuk menggunakan kemampuan Claude dalam menguji keamanan sistem secara bertanggung jawab.
(BACA JUGA: BTS Konser Perdana di Spanyol, Stadion Penuh!)
Anthropic menyatakan program tersebut memang dirancang untuk membantu para peneliti menemukan dan melaporkan kerentanan sebelum dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Perusahaan juga mengatakan bahwa penggunaan Claude untuk aktivitas peretasan di luar program tersebut akan dibatasi oleh sistem keamanannya.
Bagi dunia keamanan siber, temuan ini menunjukkan perubahan yang cukup besar. Selama ini, AI lebih sering dipandang sebagai ancaman yang dapat dimanfaatkan oleh peretas. Namun, kasus Front Gate memperlihatkan sisi lain.
AI juga dapat menjadi alat yang membantu peneliti menemukan kelemahan sistem dengan lebih cepat.
Di saat yang sama, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa perusahaan perlu terus memperkuat sistem keamanannya, karena teknologi yang membantu menemukan celah kini semakin canggih dan mudah diakses.
(Rendy Aditya, foto: edtechinnovationhub.com)
