Isu ini muncul setelah juri federal Amerika Serikat menyatakan bahwa terbukti ada monopoli ilegal di antara kedua belah pihak.
Live Nation dan Ticketmaster kembali menjadi pusat perhatian setelah juri federal di Amerika Serikat menyatakan bahwa perusahaan tersebut menjalankan monopoli ilegal dalam industri konser dan penjualan tiket.
Putusan yang keluar pada April 2026 itu menjadi kemenangan besar bagi puluhan negara bagian yang selama ini menuduh Live Nation menyalahgunakan dominasinya di industri hiburan langsung dan membuat harga tiket semakin mahal bagi konsumen.
Kasus ini sebenarnya telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Gugatan awal diajukan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat bersama puluhan negara bagian pada 2024, dengan tuduhan bahwa Live Nation menggunakan kekuatan bisnisnya untuk menekan kompetitor, mengontrol venue konser dan memperkuat dominasi Ticketmaster dalam pasar penjualan tiket.
Gugatan tersebut bahkan secara terbuka meminta agar Live Nation dan Ticketmaster dipisahkan sebagai bagian dari solusi antimonopoli.
Setelah melalui persidangan panjang, juri akhirnya menyimpulkan bahwa Live Nation memang melanggar hukum antitrust dan menyebabkan konsumen membayar biaya tiket yang lebih tinggi.
Putusan tersebut langsung memicu pertanyaan besar. Apakah Ticketmaster akhirnya akan dipisahkan dari Live Nation setelah lebih dari satu dekade berada di bawah perusahaan yang sama?
(BACA JUGA: Bukan Cuma Bangkok, Post Malone Bakal Tur di Lebih Banyak Negara Asia Tenggara)
Meski banyak pihak berharap demikian, para pakar hukum dan analis industri menilai proses tersebut tidak akan semudah yang dibayangkan.
Dalam laporan terbaru Billboard, sejumlah ahli menjelaskan bahwa pembubaran perusahaan besar melalui putusan antitrust tergolong sangat jarang terjadi dalam sejarah modern Amerika Serikat.
Bahkan ketika perusahaan terbukti melakukan praktik monopoli, pengadilan sering kali memilih solusi berupa pembatasan bisnis, perubahan kebijakan, atau denda finansial dibandingkan memaksa perusahaan untuk dipecah.
Situasi menjadi semakin rumit karena Departemen Kehakiman sebelumnya telah mencapai kesepakatan terpisah dengan Live Nation yang tidak mewajibkan perusahaan menjual Ticketmaster.
Sebaliknya, kesepakatan tersebut berfokus pada sejumlah reformasi bisnis, termasuk membuka akses yang lebih besar bagi kompetitor dan mengurangi praktik eksklusif tertentu.
Namun, lebih dari 30 negara bagian tetap melanjutkan gugatan mereka dan kini secara resmi meminta hakim untuk memerintahkan pemisahan Ticketmaster dari Live Nation.
Jika permintaan tersebut dikabulkan, dampaknya bisa menjadi salah satu perubahan terbesar dalam industri musik live selama beberapa dekade terakhir.
(BACA JUGA: Drake Pecahkan Rekor Spotify 2026 Lewat Album ‘Iceman’)
Ticketmaster saat ini menangani sebagian besar penjualan tiket untuk venue besar di Amerika Serikat, sementara Live Nation memiliki jaringan promotor konser, venue dan festival yang sangat luas.
Banyak pihak menilai kombinasi keduanya menciptakan kekuatan pasar yang terlalu besar dan menyulitkan kompetitor untuk berkembang.
Di sisi lain, Live Nation tetap membantah bahwa perusahaan mereka harus dipecah. Perusahaan tersebut menilai tuntutan pemisahan bersifat politis dan berargumen bahwa putusan juri tidak secara otomatis menjadi dasar untuk memaksa penjualan Ticketmaster.
Mereka juga telah menyatakan akan terus melawan berbagai putusan yang dianggap merugikan perusahaan.
Untuk saat ini, keputusan akhir masih berada di tangan hakim federal yang akan menentukan bentuk hukuman dan solusi yang harus dijalankan perusahaan.
Dengan besarnya pengaruh Live Nation dan Ticketmaster terhadap industri konser global, hasil akhir kasus ini berpotensi menjadi momen yang mengubah cara industri musik live beroperasi di masa depan, baik bagi promotor, artis, venue, maupun jutaan penggemar yang membeli tiket konser setiap tahunnya.
(Rendy Aditya, foto: denverpost.com, nytimes.com)
