Menurut data yang dikeluarkan oleh beberapa badan survei, ada alasan yang mendasari millennials dan Gen Z punya harapan hidup yang rendah.
Belakangan ini, narasi soal rendahnya harapan hidup di kalangan millennials dan Gen Z semakin sering muncul ke permukaan.
Bukan tanpa alasan, berbagai survei dan riset menunjukkan bahwa kedua generasi ini memang cenderung lebih pesimistis dibandingkan dengan generasi sebelumnya, baik soal kondisi ekonomi, pekerjaan, maupun masa depan secara umum.
Namun, di balik data yang terlihat suram tersebut, ternyata ada penjelasan psikologis yang cukup menarik untuk dipahami.
Rendahnya harapan hidup ini tidak selalu berarti keputusasaan total, melainkan juga bisa menjadi mekanisme perlindungan diri yang secara tidak sadar dipilih oleh banyak orang.
Berikut beberapa rangkuman data yang sudah dirangkum oleh MOSTEAM.
OPTIMISME HIDUP TERUS MENURUN
Melansir dari Deloitte, tingkat optimisme ekonomi millennials berada pada titik terendah sejak survei tersebut mulai dilakukan enam tahun lalu.
Hanya sekitar satu dari empat responden yang percaya bahwa kondisi ekonomi negaranya akan membaik dalam setahun ke depan.
Sementara itu, menurut riset Gallup-Walton Family Foundation, Gen Z disebut memiliki kondisi kesehatan mental terburuk dibandingkan dengan generasi lain yang masih hidup saat ini.
Dengan tingkat kesepian, depresi dan kecemasan terhadap masa depan yang lebih tinggi.
(BACA JUGA: Dikejar Target Financial Freedom, Bikin Gen Z dan Millennials Cemas)
FENOMENA “EXPECTATION HANGOVER”
Menurut Psychology Today, ada istilah menarik bernama expectation hangover yang dicetuskan oleh Christine Hassler. Teori ini menjelaskan tentang perasaan “jatuh” ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana atau harapan yang sudah dibangun sebelumnya.
Riset menyebut Millennials berpotensi mengalami expectation hangover yang lebih berat dibandingkan dengan generasi lain. Karena mereka dibesarkan dengan ekspektasi tinggi untuk mencapai kesuksesan besar, namun pada kenyataannya harus menghadapi ketidakstabilan ekonomi dan lapangan kerja yang jauh dari harapan tersebut.
DEFENSIVE PESSIMISM: STRATEGI SENGAJA MENURUNKAN EKSPEKTASI
Salah satu istilah psikologi yang paling relevan dengan fenomena ini adalah defensive pessimism, yang pertama kali dicetuskan oleh psikolog Julie Norem dan Nancy Cantor pada 1986.
Strategi ini melibatkan penurunan ekspektasi secara sengaja dan membayangkan skenario terburuk secara detail, sehingga apabila hal buruk benar-benar terjadi, dampaknya tidak terlalu menyakitkan secara emosional.
Menariknya, riset menunjukkan bahwa sekitar 25 hingga 30 persen orang menggunakan strategi ini dan performa mereka tidak kalah dibandingkan dengan individu yang cenderung optimis. Hanya saja dengan cara mengelola kecemasan yang berbeda.
PARADOKS PESIMISME GEN Z
Menurut riset dari Mass Tech Leadership Council, Gen Z justru menunjukkan tingkat pesimisme yang lebih rendah terhadap masa depan dibandingkan dengan rekan kerja yang lebih senior, meskipun mereka jauh lebih tidak puas dengan kondisi finansial dan pekerjaan saat ini.
Temuan ini menunjukkan bahwa rendahnya harapan hidup pada generasi ini kemungkinan lebih mengarah pada skeptisisme terhadap sistem yang berlaku sekarang, bukan keputusasaan total terhadap masa depan pribadi mereka.
PENJELASAN PSIKOLOGIS DI BALIK KECENDERUNGAN HARAPAN YANG RENDAH
Nancy Rappaport, seorang psikiater dari Harvard Medical School, dalam wawancara dengan Harvard Independent menjelaskan bahwa pesimisme merupakan cara seseorang melindungi diri dari kekecewaan.
Dengan tidak berharap terlalu banyak, seseorang tidak akan merasa terlalu terpukul apabila hal buruk benar-benar terjadi di kemudian hari.
FENOMENA DOOM SPENDING SEBGAGAI DAMPAK LANJUTAN
Rendahnya harapan terhadap masa depan juga dikaitkan dengan tren doom spending. Yaitu kecenderungan mengeluarkan uang secara impulsif, bahkan dengan dana yang sebenarnya belum dimiliki, karena merasa masa depan sudah suram.
Sehingga lebih memilih menikmati kondisi saat ini dibandingkan menabung untuk masa depan yang dianggap tidak pasti.
KONTEKS HISTORIS DARI RISET JEAN TWENGE
Peneliti Jean Twenge dalam bukunya menjelaskan bagaimana Millennials dibesarkan dengan ekspektasi besar untuk mewarisi dunia dan mencapai kesuksesan.
Namun, pada akhirnya banyak yang justru menghadapi pengangguran dan terpaksa kembali tinggal bersama orangtua akibat ketidakstabilan ekonomi yang mereka hadapi di awal masa dewasa.
Pada akhirnya, rendahnya harapan hidup pada millennials dan Gen Z tidak sepenuhnya mencerminkan keputusasaan. Melainkan juga bisa menjadi bentuk pertahanan psikologis terhadap ketidakpastian yang mereka hadapi sehari-hari.
Memahami hal ini penting agar kita tidak buru-buru menghakimi generasi tersebut sebagai generasi yang “kurang bersemangat”, melainkan memahami konteks di balik cara pandang mereka terhadap kehidupan.
(Rendy Aditya, foto: magnific.com/magnific)
