Menelusuri akar masalah di balik standar provider yang viral di media sosial, sampai bikin cowok dan cewek pecah karena beda pendapat.
Belakangan ini, linimasa media sosial diramaikan oleh perdebatan soal standar “cowok provider”, istilah yang merujuk pada laki-laki yang dianggap mampu menanggung kebutuhan finansial pasangannya secara penuh.
Tagar dan konten soal ini bertebaran di TikTok, memicu diskusi panjang antara pihak yang mendukung standar tersebut dan pihak yang menganggapnya sudah bergeser jadi ekspektasi yang tidak realistis, bahkan membebani salah satu pihak secara sepihak.
Yang bikin topik ini makin kompleks, perdebatan nggak cuma soal preferensi personal, tapi juga menyentuh isu psikologis, pola asuh, sampai realita ekonomi rumah tangga masa kini.
MOSTEAM coba telusuri argumen dari kedua sisi, lengkap dengan referensi yang bisa jadi bahan renungan buat kamu yang lagi ada di tengah-tengah “medan perang” ini.
KENAPA SEBAGIAN CEWEK MENGANGGAP COWOK PROVIDER ITU PENTING?
Preferensi ini sering dikaitkan dengan pengalaman masa kecil. Riset psikologi menyebut bahwa laki-laki yang berperan sebagai provider justru memperkuat ikatan kelekatan (attachment) dengan keluarganya, mirip dengan cara ibu membentuk kelekatan lewat pengasuhan.
Sehingga peran ini secara historis menjadi fondasi keterlibatan seorang ayah di rumah. Ketika peran ini absen di masa kecil seseorang, wajar kalau muncul kerinduan akan rasa aman itu dalam hubungan dewasa mereka.
STANDAR YANG BISA JADI BEBAN BERAT UNTUK LAKI-LAKI
Di sisi lain, riset dari Equimundo dan Pew Research menunjukkan bahwa 86 persen laki-laki dan 77 persen perempuan masih mengaitkan maskulinitas dengan peran sebagai provider dan hampir separuh masyarakat masih menilai kemampuan mencari nafkah sebagai peran terpenting seorang ayah.
Masalahnya, standar ini tidak banyak berubah meski makin banyak perempuan yang penghasilannya justru melebihi penghasilan pasangannya. Dan hal ini bisa bikin banyak laki-laki diam-diam menanggung kecemasan soal “apakah aku cukup” meski secara materi mereka baik-baik saja.
(BACA JUGA: Golden Child Syndrome, Faktor Psikologi di Balik Pelaku Kasus Yuvita)
PROVIDER BUKAN CUMA SOAL UANG, TAPI SOAL RASA AMAN
Menariknya, riset yang mengutip eksperimen klasik Harlow pada monyet menunjukkan insight yang relevan. Ketika dikasih pilihan antara induk pengganti yang cuma menyediakan makanan dan yang menyediakan kenyamanan fisik, monyet-monyet lebih memilih yang menawarkan rasa nyaman.
Analogi ini dipakai untuk menjelaskan bahwa yang sebenarnya dicari banyak pasangan bukan cuma kestabilan finansial, tapi kehadiran dan koneksi emosional. Sesuatu yang sering hilang di tengah obsesi soal “siapa yang harus provide“.
REALITA EKONOMI BIKIN STANDAR LAMA SULIT DIPERTAHANKAN
Argumen tentang “kalau gaji enggak cukup buat dua orang, jangan nikah” ini terdengar tegas, tapi kurang mempertimbangkan kondisi ekonomi terkini.
Data terbaru menunjukkan hanya 28 persen lowongan kerja di Amerika Serikat yang mampu menopang rumah tangga dengan satu penghasilan yang menyewa tempat tinggal.
Sementara angka itu melonjak jadi 65 persen kalau rumah tangga tersebut punya dua sumber penghasilan dengan besaran yang sama.
Dengan kata lain, dual income di banyak tempat udah bergeser dari sekadar pilihan gaya hidup jadi kebutuhan struktural, yang membuat standar “satu orang harus nanggung semua” makin sulit relevan di banyak situasi.
JALAN TENGAH: REFRAME “PROVIDER” JADI “KONTRIBUSI YANG SEIMBANG”
Beberapa psikolog hubungan mengusulkan supaya standar ini tidak lagi diukur hanya dari siapa yang mencari uang lebih banyak. Tapi dari bagaimana beban rumah tangga seperti finansial, urusan domestik, sampai emosional, dibagi berdasarkan kapasitas masing-masing pasangan.
Reframe ini dianggap lebih adil buat kedua pihak dan lebih relevan sama kondisi ekonomi generasi sekarang dibanding standar lama yang kaku.
Pada akhirnya, perdebatan soal “cowok provider” ini tidak akan selesai dalam semalam, karena menyentuh luka masa lalu, ekspektasi sosial, sampai tekanan ekonomi yang nyata.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro)
