Cara ini dibagikan oleh para dokter dan terbukti ampuh untuk menenangkan kulit saat gejalanya muncul atau kambuh.
Biduran atau urtikaria sering kali muncul tiba-tiba lalu menghilang dalam hitungan jam. Namun, bagi sebagian orang, bentol merah yang terasa gatal itu bisa terus datang berulang selama lebih dari enam minggu.
Kondisi ini dikenal sebagai chronic hives atau chronic spontaneous urticaria (CSU). Meski tidak menular dan umumnya tidak membahayakan nyawa, biduran kronis dapat sangat mengganggu kualitas hidup.
Rasa gatal yang muncul terus-menerus bisa mengganggu tidur, aktivitas sehari-hari, hingga kesehatan mental.
Kabar baiknya, selain mengikuti pengobatan dari dokter, ada beberapa cara sederhana yang dapat membantu menenangkan kulit ketika gejala kambuh.
KOMPRES DINGIN UNTUK MENGURANGI GATAL
Saat bentol mulai muncul dan terasa sangat gatal, suhu dingin dapat membantu memberikan rasa nyaman.
Menurut para dokter kulit yang diwawancarai oleh Women’s Health, kompres dingin atau handuk bersih yang dibasahi air dingin dapat membantu mengurangi rasa gatal dan menenangkan peradangan pada kulit.
Mandi dengan air yang tidak terlalu hangat juga bisa menjadi pilihan ketika area yang terkena cukup luas. Sebaliknya, air panas justru dapat memperparah rasa gatal pada sebagian penderita.
GUNAKAN PELEMBAP TANPA PEWANGI
Kulit yang mengalami biduran sering kali menjadi lebih sensitif.
Karena itu, para ahli menyarankan penggunaan pelembap yang lembut, bebas pewangi dan diformulasikan untuk kulit sensitif.
Pelembap memang tidak menghilangkan biduran, tetapi dapat membantu memperkuat lapisan pelindung kulit sehingga rasa tidak nyaman berkurang.
Produk dengan kandungan sederhana dan minim bahan tambahan umumnya lebih disarankan dibandingkan dengan produk yang mengandung parfum atau alkohol.
(BACA JUGA: Telinga Kamu Sering Gatal Saat Malam? Mungkin Ini Penyebabnya!)
PILIH PAKAIAN YANG LONGGAR DAN SEJUK
Gesekan pakaian pada kulit dapat memicu atau memperburuk gejala pada sebagian penderita. Karena itu, mengenakan pakaian berbahan lembut seperti katun dan tidak terlalu ketat dapat membantu mengurangi iritasi.
Selain itu, menjaga tubuh tetap sejuk juga penting karena panas dan keringat menjadi salah satu pemicu yang cukup sering dilaporkan pada penderita biduran kronis.
Jika memungkinkan, hindari berada terlalu lama di lingkungan yang panas ketika gejala sedang kambuh.
KELOLA STRES
Meski bukan penyebab utama, stres diketahui dapat memperburuk gejala pada sebagian orang dengan chronic spontaneous urticaria.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara stres psikologis dan meningkatnya aktivitas sistem imun yang berperan dalam munculnya biduran kronis.
Karena itu, teknik relaksasi seperti meditasi, latihan pernapasan, yoga, atau sekadar meluangkan waktu untuk beristirahat dapat membantu mengurangi frekuensi kambuh pada sebagian penderita.
TETAP IKUTI PENGOBATAN DARI DOKTER
Meski berbagai langkah di atas dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman, para ahli mengingatkan bahwa biduran kronis tetap memerlukan evaluasi medis.
Pada banyak kasus, penyebabnya tidak diketahui secara pasti dan berkaitan dengan respons sistem imun, bukan semata-mata alergi makanan.
Karena itu, pengobatan utama biasanya berupa antihistamin generasi kedua dan pada kasus tertentu dokter dapat mempertimbangkan terapi lain bila gejala tidak membaik.
Segera cari pertolongan medis darurat apabila biduran disertai pembengkakan pada bibir, lidah, atau tenggorokan, sesak napas, atau kesulitan menelan karena kondisi tersebut dapat menandakan reaksi yang lebih serius.
MULAI DARI KEBIASAAN SEDERHANA
Hidup dengan biduran kronis memang tidak mudah. Rasa gatal yang datang tanpa diduga bisa mengganggu tidur, pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari.
Meski belum tentu menghilangkan gejalanya, langkah sederhana seperti mengompres kulit dengan air dingin, menggunakan pelembap yang tepat, memilih pakaian yang nyaman dan mengelola stres dapat membantu membuat kulit terasa lebih tenang saat flare-up terjadi.
Yang tak kalah penting, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter apabila gejala terus berulang atau semakin berat agar mendapatkan penanganan yang sesuai.
(Kirana Putri, foto: verywellhealth.com)
