Bukan Cuma Pelengkap, Banchan Punya Arti Lebih untuk Tradisi Korea

Side dish khas Korea ini tersimpan sejarah panjang yang dipengaruhi oleh musim, budaya, hingga filosofi hidup masyarakat Korea.

Kalau pernah makan di restoran Korea, kamu mungkin akan langsung disambut dengan beberapa mangkuk kecil berisi kimchi, acar, sayuran, telur gulung, atau hidangan pendamping lainnya.

Menariknya, semua makanan tersebut biasanya langsung disajikan tanpa perlu dipesan terlebih dahulu. Hidangan-hidangan kecil itu dikenal sebagai banchan.

Banyak orang menganggapnya sebagai side dish atau pelengkap makanan, padahal bagi masyarakat Korea, banchan memiliki peran yang jauh lebih penting.

Banchan bukan bonus dari restoran, melainkan bagian dari budaya makan yang telah berkembang selama ratusan tahun.

APA ITU BANCHAN?

Secara sederhana, banchan adalah berbagai hidangan pendamping yang disajikan bersama nasi dan sup dalam satu porsi makan.

Berbeda dengan konsep makanan Barat yang menempatkan satu hidangan utama sebagai pusat perhatian, budaya makan Korea justru dibangun dari kombinasi nasi (bap), sup (guk atau jjigae) dan beragam banchan.

Artinya, banchan bukan sekadar pelengkap. Ketiga elemen tersebut membentuk satu kesatuan yang utuh di meja makan.

Itulah mengapa ketika kamu memesan bulgogi, samgyeopsal, atau sundubu jjigae di restoran Korea, banchan hampir selalu ikut disajikan.

PENGARUH ALAM

Banchan muncul bukan karena selera makan. Tetapi ada sejarahnya yang berkaitan dengan kondisi alam di Korea.

Sebagian besar wilayah Korea dipenuhi pegunungan dan memiliki empat musim yang cukup ekstrem. Musim dingin yang panjang membuat masyarakat pada masa lalu sulit memperoleh bahan makanan segar sepanjang tahun.

Agar bahan makanan tidak cepat rusak, mereka mulai mengembangkan berbagai teknik pengawetan, seperti fermentasi, penggaraman, pengeringan, hingga pengasaman.

Dari sinilah lahir berbagai makanan yang kini akrab sebagai banchan, seperti kimchi, aneka acar, sayuran fermentasi, hingga pasta kedelai fermentasi yang menjadi dasar banyak masakan Korea.

Awalnya, teknik ini dilakukan demi bertahan hidup. Namun seiring waktu, makanan hasil fermentasi justru menjadi bagian penting dari identitas kuliner Korea.

(BACA JUGA: Menurut Studi, Kimchi Bisa Bantu Hilangkan Mikroplastik dari Tubuh)

(Foto: asianinspirations.com.au)

PENGARUH AGAMA BUDDHA

Selain faktor alam, perkembangan banchan juga dipengaruhi oleh agama Buddha.

Ketika agama Buddha berkembang di Korea, konsumsi daging mulai dibatasi dalam kehidupan para biksu dan sebagian masyarakat. Akibatnya, hidangan berbahan dasar sayuran berkembang semakin pesat.

Masyarakat mulai mengeksplorasi berbagai cara mengolah sayuran agar tetap lezat, mulai dari merebus, mengukus, menumis, membumbui, hingga memfermentasikannya.

Tradisi inilah yang kemudian melahirkan berbagai jenis namul, yaitu sayuran berbumbu yang hingga kini masih menjadi salah satu jenis banchan paling populer.

MEMERIAHKAN SEMANGKUK NASI

Ada alasan lain yang terdengar sederhana, tetapi justru sangat masuk akal.

Nasi putih memiliki rasa yang netral. Jika setiap hari hanya dimakan begitu saja, tentu akan terasa membosankan.

Karena itu, masyarakat Korea menciptakan berbagai banchan dengan karakter rasa yang berbeda-beda. Ada yang pedas, asin, asam, gurih, manis, hingga memiliki cita rasa fermentasi yang khas.

Setiap suapan nasi pun bisa menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Hari ini kamu mungkin memadukan nasi dengan kimchi. Suapan berikutnya dengan tumis bayam, telur gulung, atau ikan teri berbumbu. Meski nasi yang dimakan tetap sama, kombinasi rasanya terus berubah.

Inilah salah satu alasan mengapa meja makan Korea hampir selalu dipenuhi banyak mangkuk kecil.

KESEIMBANGAN DI ATAS MEJA MAKAN

Banchan juga mencerminkan filosofi keseimbangan dalam budaya Korea.

Dalam satu meja makan, masyarakat Korea berusaha menghadirkan variasi rasa, warna, tekstur, hingga cara memasak yang berbeda. Ada makanan yang segar, pedas, renyah, lembut, hangat, maupun dingin.

Konsep ini tidak hanya membuat hidangan terasa lebih menarik, tetapi juga dipercaya mampu menciptakan keseimbangan dalam pola makan sehari-hari.

Karena itu, sebuah meja makan Korea sering terlihat penuh, meski hidangan utamanya sebenarnya cukup sederhana.

(BACA JUGA: Jenis Sayur Tinggi Serat untuk Diet)

(Foto: thepioneerwoman.com)

JUMLAH BANCHAN MENUNJUKKAN STATUS SOSIAL

Pada masa Dinasti Joseon, jumlah banchan bahkan menjadi simbol status sosial.

Masyarakat biasa biasanya hanya menyajikan beberapa jenis banchan. Sementara keluarga bangsawan memiliki lebih banyak variasi hidangan.

Di lingkungan kerajaan, dikenal tradisi surasang, yaitu set hidangan kerajaan yang dapat terdiri dari 12 jenis banchan, belum termasuk nasi, sup dan hidangan utama lainnya.

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa banchan bukan hanya soal makanan, tetapi juga bagian dari tata krama dan budaya makan masyarakat Korea.

BANCHAN ADALAH CERMINAN TRADISI MASYARAKAT KOREA

Kalau dipikir-pikir, banchan sebenarnya tidak lahir karena masyarakat Korea ingin makan lebih banyak.

Sebaliknya, tradisi ini muncul dari kebutuhan untuk memanfaatkan bahan makanan yang tersedia sepanjang tahun, menghadapi musim dingin yang panjang, serta menciptakan variasi rasa dari makanan sehari-hari yang sederhana.

Kini, deretan mangkuk kecil di meja makan Korea bukan hanya membuat hidangan terlihat lebih menggugah selera. Di baliknya tersimpan sejarah tentang adaptasi terhadap alam, pengaruh budaya dan filosofi hidup yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Jadi, lain kali saat menikmati kimchi atau berbagai banchan lainnya di restoran Korea, kamu sebenarnya sedang mencicipi lebih dari sekadar side dish. Kamu juga sedang menikmati salah satu tradisi kuliner paling ikonik yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Korea.

(Kirana Putri, foto: timesnownews.com)

Share