Costume, Cosplay dan Ganti Peran di Ranjang: Normal atau Fetish?

Sebelum kamu menghakimi atau merasa dihakimi, psikologi punya jawaban yang jauh lebih meaningful dan lebih dari sekadar fantasi.

Bayangkan skenario ini: pasanganmu tiba-tiba mengusulkan untuk mencoba sesuatu yang berbeda. Mungkin memakai kostum tertentu, berpura-pura menjadi karakter lain, atau memainkan sebuah skenario yang sudah lama ada di kepala salah satu dari kalian.

Reaksi pertamamu mungkin penasaran, mungkin kikuk, atau mungkin langsung muncul pertanyaan yang sama yang sering muncul di kepala banyak orang. Ini normal atau ini sudah masuk kategori fetish?

Pertanyaan yang tampaknya sederhana itu ternyata menyimpan jawaban yang jauh lebih menarik dari yang kebanyakan orang bayangkan.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita perlu memahami dua istilah yang sering digunakan secara bergantian, padahal maknanya berbeda. Kink dan fetish.

Melansir dari MindBodyGreen, kink adalah istilah payung yang mencakup semua minat seksual “alternatif”, yakni apa pun yang berada di luar bentuk aktivitas seksual yang lebih umum dan mainstream.

Role-playing, dinamika kekuasaan, permainan sensorik, semuanya masuk ke dalam kategori ini. Sementara itu, fetish lebih spesifik: ia merujuk pada ketertarikan seksual yang terfokus pada objek, bagian tubuh, atau skenario tertentu yang menjadi syarat untuk tercapainya gairah.

Perbedaan kuncinya ada di satu kata: syarat. Melansir dari SHOSU Amsterdam, pada kink, gairah bisa muncul dari berbagai aktivitas atau fantasi yang tidak konvensional.

Sedangkan pada fetish, gairah secara spesifik dipicu oleh kehadiran objek, bagian tubuh, atau skenario tertentu. Tanpa elemen tersebut, gairah tidak bisa tercapai sepenuhnya.

Dengan definisi itu, berganti kostum atau memainkan peran tertentu bersama pasangan dalam banyak kasus masuk ke dalam kategori kink, bukan fetish, selama ia bersifat sebagai tambahan yang menyenangkan dan bukan satu-satunya cara untuk merasakan kepuasan.

(BACA JUGA: Sering Diabaikan, Teknik Bernapas Saat Berhubungan Seks Itu Penting!)

Tapi lalu pertanyaan besarnya, apakah kink dan fetish itu normal?

Melansir dari GoodTherapy, edisi terbaru Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) menciptakan perbedaan yang jelas antara perilaku seksual tidak biasa dan patologi. DSM-5 mendefinisikan fetish sebagai bermasalah hanya ketika ia menyebabkan distres yang signifikan atau melibatkan ketidaksetujuan orang lain.

Dengan kata lain, perilaku seksual yang tidak konvensional hanya dianggap sebagai gangguan mental ketika ia menyebabkan masalah nyata bagi individu tersebut.

Contohnya adalah paraphilic disorder atau gangguan parafilia. Melansir dari WebMD, gangguan parafilia adalah kondisi mental yang melibatkan orang yang tidak memberikan persetujuan, menyebabkan distres yang nyata, atau secara signifikan berisiko menimbulkan cedera atau kematian.

Tanpa elemen-elemen itu, sebuah preferensi seksual yang tidak konvensional, termasuk role-playing dengan kostum, tidak masuk ke dalam definisi gangguan.

Jadi, mengapa begitu banyak orang tertarik pada role-playing dan ganti peran dalam hubungan intim?

Sexual role-playing melibatkan pengambilan karakter atau peran tertentu untuk memainkan skenario dan fantasi. Ia memungkinkan seseorang untuk mengeksplorasi berbagai aspek kepribadian mereka atau terlibat dalam dinamika kekuasaan dalam ruang yang aman dan penuh persetujuan.

Di sinilah psikologinya menjadi sangat menarik. Kostum dan peran bukan hanya soal penampilan. Mereka adalah alat untuk menciptakan jarak psikologis yang aman dari identitas sehari-hari.

Sebuah ruang di mana seseorang bisa mengeksplorasi sisi dirinya yang mungkin tidak pernah mendapat kesempatan untuk muncul dalam kehidupan normal.

Seorang yang sangat terkontrol dalam kesehariannya mungkin menemukan kebebasan dalam memainkan karakter yang sebaliknya. Seseorang yang pemalu mungkin menemukan kepercayaan diri dalam karakter yang berani.

Melansir dari Among Friends LLC, kink dan fetish adalah variasi normal dari seksualitas manusia, bukan gangguan. Mereka adalah preferensi, bukan keharusan. Mereka bersifat cair dan bisa berubah seiring waktu.

Lalu di mana garis yang harus dijaga? Jawabannya ada pada dua hal yang tidak bisa ditawar. Persetujuan dan kenyamanan.

(BACA JUGA: Sex After 30: Kenapa Rasanya Jadi Kurang Nendang?)

Melansir dari Tandfonline, DSM-5 mendefinisikan paraphilic disorder sebagai kondisi mental yang dihasilkan dari perilaku tidak biasa yang berlangsung lebih dari enam bulan dan menyebabkan distres pribadi atau melibatkan distres psikologis orang lain, cedera, atau melibatkan keinginan untuk perilaku seksual dengan orang yang tidak mau atau tidak mampu memberikan persetujuan hukum.

Selama kedua pasangan memberikan persetujuan yang jelas, tidak ada pihak yang merasa tidak nyaman atau dirugikan dan aktivitas tersebut tidak menjadi satu-satunya cara untuk merasakan kepuasan seksual, maka tidak ada garis yang dilanggar.

Role-playing dengan kostum apa pun, dalam konteks seperti ini, tidak lebih dari sebuah bentuk eksplorasi kreatif yang sehat dalam sebuah hubungan.

Maka jawabannya untuk pertanyaan di awal tadi adalah bahwa berganti peran dan kostum dalam hubungan intim, dalam banyak kasus, adalah sesuatu yang sangat normal.

Bahkan, ia bisa menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk menjaga keintiman tetap segar, membangun kepercayaan yang lebih dalam, dan membuka komunikasi yang lebih jujur antara pasangan.

Yang perlu diwaspadai bukan aktivitasnya, melainkan kondisi di sekitarnya. Apakah keduanya setuju? Apakah keduanya nyaman? Apakah ini memperkaya hubungan, bukan menggantikan koneksi yang sesungguhnya?

Kalau jawabannya ya, maka kostum itu hanyalah kostum. Dan peran itu hanyalah permainan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

(Kirana Putri, foto: therabbitcompany.com)

Share