Di hari terakhir long weekend ini, mungkin hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Coba ingat-ingat kembali berapa kali dalam sebulan terakhir ini kamu benar-benar berhenti. Bukan tidur, bukan scroll media sosial, bukan menonton serial. Tapi benar-benar berhenti, tanpa agenda, tanpa to-do list, tanpa rasa bersalah karena tidak produktif.
Kalau jawabannya tidak pernah, kamu tidak sendirian.
Kita hidup di era di mana kesibukan telah menjadi identitas. Kalender yang penuh dianggap sebagai tanda kesuksesan. Waktu luang terasa seperti sesuatu yang harus diisi, bukan dinikmati.
Dan di hari terakhir long weekend seperti hari ini, ada tekanan diam-diam untuk “memanfaatkan waktu sebaik mungkin” sebelum Senin datang kembali.
Tapi bagaimana jika justru sebaliknya yang benar? Bagaimana jika hal terbaik yang bisa kamu lakukan hari ini adalah tidak melakukan apa-apa sama sekali?
Do Nothing Day bukan sekadar konsep malas-malasan yang diromantisasi di media sosial. Ia punya fondasi ilmiah yang sangat solid.
Melansir dari Psychology Today, memprioritaskan istirahat dan waktu untuk tidak melakukan apapun bukan hanya bermanfaat, tapi juga diperlukan. Memberi diri kita izin untuk beristirahat memungkinkan kita untuk hadir lebih penuh bagi diri sendiri maupun orang lain.
Menariknya adalah apa yang terjadi di dalam otak ketika kita benar-benar berhenti. Melansir dari The Thought Co., ketika kita melangkah keluar dari rutinitas, otak mendapat kesempatan untuk mengkonsolidasi memori dan membuat koneksi-koneksi baru, proses yang mirip dengan apa yang terjadi saat tidur.
Satu studi bahkan menemukan bahwa 40 persen dari ide-ide paling kreatif kita muncul justru di periode istirahat atau melamun.
Istirahat bukan lawan dari produktivitas. Ia adalah pondasinya.
Fenomena do nothing ini bahkan sudah berkembang menjadi tren yang cukup viral di media sosial.
(BACA JUGA: Berencana di Rumah? Ini Kegiatan yang Seru Dilakukan Selama Long Weekend)
Melansir dari TODAY, do nothing challenge adalah tren media sosial yang menantang para pesertanya untuk duduk diam dalam keheningan, merekamnya, lalu mengunggahnya ke platform media sosial.
Niro Feliciano, seorang psikoterapis yang berspesialisasi dalam kecemasan, menyebut tantangan ini sangat baik untuk melatih kemampuan diam yang sesungguhnya.
“Kita sangat kelebihan beban dengan informasi dan stimulasi. Pikiran kita terus-menerus bergerak. Tantangan ini memaksa orang untuk melatih pikiran mereka agar bisa benar-benar diam. Dan kita tahu bahwa banyak hal terjadi di otak dan tubuh ketika kita menemukan ketenangan itu,” ungkapnya.
Di era di mana bahkan istirahat pun sering kali masih terkoneksi dengan layar dan notifikasi, kemampuan untuk benar-benar diam tanpa stimulasi apapun menjadi sebuah keterampilan yang perlu dilatih.
Dan manfaatnya jauh melampaui sekadar merasa segar setelah beristirahat.
Melansir dari Justin Thomas Miller, sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Occupational Health Psychology menemukan bahwa karyawan yang mengambil jeda selama hari kerja melaporkan lebih sedikit keluhan kesehatan fisik dan psikologis, serta kepuasan kerja dan produktivitas yang lebih tinggi.
Studi lain di Journal of Health Psychology menemukan bahwa individu yang secara rutin mengambil waktu istirahat melaporkan tingkat stres yang lebih rendah dan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.
Bahkan hubungan dengan orang-orang di sekitar kita pun terpengaruh secara positif. Melansir dari Justin Thomas Miller, sebuah studi di Journal of Social and Personal Relationships menemukan bahwa individu yang meluangkan waktu untuk terlibat dalam aktivitas santai bersama pasangan mereka melaporkan tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi.
Istirahat bukan hanya investasi untuk dirimu sendiri. Ia juga investasi untuk hubungan-hubunganmu.
(BACA JUGA: Mengenal Soft Living, Gaya Hidup Idama di Atas Slow Living)
Tapi ada satu hal yang perlu diluruskan: do nothing bukan berarti doom scrolling selama berjam-jam atau menonton serial tanpa henti.
Melansir dari The Thought Co., dalam budaya yang mengagungkan minggu kerja 70 jam dan memuliakan grind, sengaja tidak melakukan apa pun terasa revolusioner. Tapi intinya bukan tentang menjadi tidak produktif.
Ini tentang mengisi ulang diri sehingga kamu bisa hadir sepenuhnya ketika kamu memang harus hadir.
Do nothing yang sesungguhnya bisa terasa seperti duduk di teras tanpa ponsel, menatap langit-langit sambil membiarkan pikiran mengalir ke mana pun ia mau, tidur siang tanpa alarm, atau sekadar duduk diam dengan secangkir kopi hangat tanpa merasa harus melakukan sesuatu setelahnya.
Jadi untuk hari ini, di hari terakhir long weekend ini, MOSTEAM memberimu izin resmi untuk tidak melakukan apa-apa.
Tidak perlu meal prep untuk minggu depan. Tidak perlu beres-beres rumah. Tidak perlu menjawab pesan yang belum terbaca. Seperti yang diungkapkan psikolog Laura Pendergrass dan dilansir dari The Thought Co.
“Tidak ada tugas, tidak ada gaji, tidak ada proyek yang lebih penting dari dirimu dan kesejahteraanmu.”
Senin akan datang dengan sendirinya. Tapi momen untuk benar-benar berhenti seperti ini tidak selalu ada. Manfaatkan selagi bisa.
(Annisa Larasati, foto: magnific.com/freepik)
