Kalau perusahaanmu punya semua ini, selamat. Kamu sudah selangkah lebih maju dalam memenangkan loyalitas generasi muda.
Ada pergeseran besar yang sedang terjadi di dunia kerja Indonesia, dan banyak perusahaan belum sepenuhnya menyadarinya.
Melansir dari Jakpat, gaji yang kurang memuaskan menjadi alasan 41 persen Gen Z memilih untuk mengundurkan diri. Tapi yang menarik adalah sisanya, hampir 60 persen, pergi bukan karena gaji.
Mereka pergi karena sesuatu yang lebih sulit diukur. Rasa tidak dihargai, tidak berkembang, atau tidak menemukan makna dalam pekerjaan yang mereka lakukan setiap hari.
Generasi yang kini mendominasi angkatan kerja Indonesia, yakni Gen Z dan Millennials, tidak lagi memandang pekerjaan sekadar sebagai sumber penghasilan.
Mereka memandangnya sebagai perpanjangan dari identitas dan nilai hidup mereka. Dan ketika sebuah perusahaan gagal memenuhi ekspektasi itu, mereka tidak akan ragu untuk pergi.
Lalu apa sebenarnya yang membuat mereka bertahan?
(BACA JUGA: Quiet Quitting dan Burnout, Bagaimana Gen Z Mendefinisikan Ulang Makna Bekerja)
GAJI YANG KOMPETITIF DAN TRANSPARAN
Ini tetap menjadi fondasi dari segalanya. Tapi Gen Z dan Millennials tidak hanya menginginkan angka yang besar. Mereka menginginkan sistem yang jelas dan adil.
Melansir dari Jakpat 2024 via pertiba.ac.id, gaji yang kompetitif dan struktur insentif yang transparan menjadi penentu utama Gen Z dalam memilih pekerjaan.
Sementara itu, melansir dari Forbes via pertiba.ac.id, 68 persen Gen Z merasa jalur kenaikan gaji dan pelatihan kepemimpinan di perusahaan masih belum jelas, sehingga transparansi dalam sistem kompensasi menjadi tuntutan utama.
Contoh, perusahaan yang secara terbuka mengomunikasikan salary band per level jabatan, memberikan performance review berkala dengan indikator yang jelas dan menyertakan tunjangan tambahan seperti makan, transportasi, atau internet allowance untuk karyawan remote, cenderung lebih dipilih dan lebih lama mempertahankan karyawan mudanya.
FLEKSIBILITAS WAKTU DAN LOKASI KERJA
Ini bukan sekadar tren pasca pandemi. Bagi Gen Z dan Millennials, fleksibilitas sudah menjadi standar minimum.
Melansir dari Jakpat 2024 via pertiba.ac.id, 48 persen Gen Z di Indonesia mengutamakan pekerjaan dengan jam kerja fleksibel, sementara hanya 8 persen yang memilih WFO penuh.
Melansir dari HRMLabs, kerja fleksibel semakin banyak diadopsi oleh perusahaan karena terbukti meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan kepuasan kepada karyawan. Bagi generasi muda yang menyukai kebebasan dan kenyamanan, kerja fleksibel adalah benefit utama yang sangat diidamkan.
Contoh, sistem hybrid dua hingga tiga hari di kantor dan sisanya remote, opsi flextime di mana karyawan bisa memilih jam mulai kerja antara pukul 07.00 hingga 10.00 selama target tetap terpenuhi, hingga kebijakan work from anywhere yang memungkinkan karyawan bekerja dari kota lain atau bahkan luar negeri dalam periode tertentu.
DUKUNGAN KESEHATAN MENTAL YANG NYATA
Ini bukan lagi sekadar nice to have. Bagi Gen Z dan Millennials, ini sudah menjadi kebutuhan dasar.
Melansir dari Jakpat 2024, 61 persen Gen Z Indonesia mengalami mood swings dalam enam bulan terakhir, 54 persen mengalami gangguan tidur dan 37 persen mengalami kecemasan.
Perusahaan yang menyediakan program dukungan kesehatan mental berpeluang mendapatkan loyalitas Gen Z, loyalitas yang bukan dibangun atas rasa takut, melainkan rasa dihargai.
Contoh, akses ke sesi konseling psikolog yang ditanggung perusahaan minimal dua kali per bulan, mental health day sebagai cuti tambahan yang bisa diambil tanpa penjelasan, program mindfulness atau meditasi kolektif, hingga kebijakan no meeting hour di jam-jam tertentu agar karyawan punya ruang untuk bernapas di tengah hari kerja.
(BACA JUGA: Cara Menata Ruang Kerja di Rumah)
KESEMPATAN BELAJAR DAN BERKEMBANG
Gen Z dan Millennial tidak ingin stagnan. Mereka ingin tumbuh dan akan meninggalkan tempat yang tidak memberi ruang untuk itu.
Melansir dari LinkedIn Workplace Learning Report 2024, 76 persen profesional Gen Z aktif mengikuti pelatihan daring dan bootcamp untuk memperkuat kemampuan mereka.
Mereka lebih loyal kepada organisasi yang memberi tujuan, fleksibilitas dan jalur pengembangan diri. Melansir dari jurnal Systematic Literature Review yang menganalisis 35 studi antara 2013-2024, career development adalah salah satu faktor utama yang meningkatkan loyalitas Gen Z.
Perusahaan yang menawarkan program pelatihan dan mentoring berbasis teknologi lebih efektif dalam mempertahankan karyawan muda.
Contoh, anggaran learning and development per karyawan yang bisa digunakan untuk kursus, konferensi, atau sertifikasi pilihan sendiri, program mentoring lintas divisi, akses ke platform belajar seperti Coursera atau LinkedIn Learning yang ditanggung perusahaan, hingga rotasi proyek yang memberi karyawan eksposur ke bidang baru di luar job description mereka.
KEPEMIMPINAN YANG SUPORTIF DAN BUDAYA KERJA YANG SEHAT
People quit bosses, not companies. Kalimat ini sangat relevan untuk Gen Z dan Millennials.
Melansir dari GoodStats berdasarkan survei Jakpat 2024, Gen Z cenderung menyukai pemimpin yang adil kepada semua anggota tim (87 persen), bertanggung jawab (77 persen) dan terbuka untuk menerima umpan balik dari rekan mereka (70 persen).
Selain itu, 64 persen Gen Z juga mempertimbangkan isu lingkungan dan sosial ketika memilih perusahaan tempat mereka bekerja. Melansir dari Gallup Workplace Report 2024, Gen Z cenderung gelisah dalam sistem kerja yang kaku, hierarkis dan tidak memberi ruang bagi ide baru.
Contoh, one-on-one meeting rutin antara manajer dan anggota tim, budaya feedback loop yang cepat dan dua arah, kebijakan open door di mana karyawan bisa menyampaikan masukan langsung ke manajemen tanpa khawatir, serta pemimpin yang secara aktif mengakui kesalahan dan menghargai kontribusi tim secara terbuka.
PEKERJAAN YANG PUNYA MAKNA DAN DAMPAK SOSIAL
Ini mungkin yang paling membedakan Gen Z dan Millennial dari generasi sebelumnya. Gaji besar tidak cukup kalau pekerjaannya tidak terasa berarti.
Melansir dari Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey, Gen Z di Indonesia mengutamakan work-life balance, pembelajaran dan tujuan bermakna dalam sebuah pekerjaan.
Mereka mencari pekerjaan yang selaras dengan nilai pribadi, mendukung kesejahteraan, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Melansir dari survei Jakpat 2024, 50 persen Gen Z mencari perusahaan yang peduli terhadap masalah lingkungan dan sosial, serta 28 persen mengaku merasa malu ketika menemukan perusahaan yang tidak peduli terhadap kedua isu tersebut.
Contoh konkretnya, program CSR yang melibatkan karyawan secara aktif, bukan sekadar donasi korporat, komitmen nyata terhadap sustainability seperti kebijakan paperless atau carbon offset, transparansi tentang dampak sosial dari produk atau layanan perusahaan, hingga kesempatan bagi karyawan untuk mengambil cuti berbayar untuk kegiatan sukarela atau sosial.
(BACA JUGA: Dikejar Target Financial Freedom, Bikin Gen Z dan Millennials Cemas)
Melansir dari Systematic Literature Review yang mengkaji 35 studi antara 2013-2024, fleksibilitas kerja, pengembangan karier, kompensasi yang kompetitif dan budaya organisasi yang mendukung inovasi adalah faktor-faktor utama yang meningkatkan loyalitas Gen Z.
Perusahaan yang menawarkan lingkungan kerja fleksibel, sistem kompensasi berbasis prestasi dan program pelatihan berbasis teknologi terbukti lebih efektif dalam mempertahankan karyawan muda.
Pada akhirnya, mempertahankan Gen Z dan Millennial bukan soal memberikan segalanya. Ini soal memahami bahwa mereka adalah generasi yang tumbuh dengan pilihan, terbiasa dengan transparansi dan cukup berani untuk pergi ketika ekspektasi mereka tidak terpenuhi.
Perusahaan yang memahami ini lebih awal akan selalu selangkah lebih maju dalam persaingan untuk memenangkan talenta terbaik.
(Rendy Aditya, foto: magnific.com/tirachardz)
