Eva Omaghomi Membawa Desainer Afrika ke Panggung Luxury Global

Terinspirasi dari pengalamannya mencari desainer Afrika untuk busana coronation, Eva Omaghomi kini membangun platform yang membuka akses lebih luas bagi talenta fashion Afrika dan diaspora.

Selama 17 tahun, Eva Omaghomi bekerja sebagai penasihat senior di Royal Household Inggris. Kini, ia memasuki babak baru lewat Brand63Africa, sebuah social enterprise yang dibangun untuk membawa desainer keturunan Afrika ke pasar luxury global.

Ide tersebut muncul setelah penobatan Raja Charles dan Ratu Camilla pada 2023. Saat itu, Omaghomi ingin mengenakan busana dari desainer Afrika.

Ia akhirnya harus menghubungi seorang desainer asal Ghana secara langsung dan meminta dibuatkan pakaian khusus yang kemudian dikirim ke Inggris.

Pengalaman tersebut membuatnya bertanya-tanya: mengapa menemukan luxury fashion dari Afrika masih terasa begitu sulit?

Menurut Omaghomi, persoalannya bukan kurangnya talenta atau kreativitas, melainkan akses terhadap retailer internasional, jaringan industri, mentorship, investasi dan kesempatan untuk berkembang di pasar global.

Dari situlah Brand63Africa lahir. Nama “63” merujuk pada tahun 1963, ketika 32 negara Afrika membentuk Organisation of African Unity.

Sebuah organisasi yang kemudian menjadi African Union. Platform ini tidak hanya berfokus pada benua Afrika, tetapi juga pada desainer dari diaspora Afrika.

(BACA JUGA: Proenza Schouler Menghidupkan Kembali Ikon PS1 Lewat Tas PS1 Walker)

Pada September 2026, Brand63Africa membawa lima label pertamanya ke Harrods melalui sebuah pop-up di lantai lima department store ikonik London tersebut.

Kelimanya adalah Christie Brown dari Ghana, Abiola Olusola dari Nigeria, Sukeina dari Senegal, Studio Namnyak dari Kenya dan The Cloth dari Trinidad dan Tobago.

Kelima label tersebut dipilih bukan hanya berdasarkan estetika. Omaghomi juga melihat kualitas craftsmanship, identitas kreatif, cerita di balik material dan desain, serta dampak sosial masing-masing brand terhadap komunitas dan artisan di negara asal mereka.

Keragaman justru menjadi salah satu hal yang ingin ditonjolkan oleh Brand63Africa. Omaghomi tidak ingin fashion Afrika dipersepsikan sebagai satu estetika yang seragam.

Setiap desainer memiliki pendekatan berbeda terhadap heritage mereka, mulai dari teknik tradisional dan material hingga siluet serta cara bercerita melalui pakaian.

Bagi Omaghomi, membawa brand-brand tersebut ke Harrods juga bukan sekadar memberikan exposure.

Retail experience seperti ini memberikan kesempatan bagi desainer untuk bertemu langsung dengan konsumen luxury internasional dan membangun hubungan yang lebih panjang dengan pasar global.

Harrods sendiri menyebut pop-up tersebut sebagai kesempatan bagi pelanggan untuk mengenal craftsmanship dan kreativitas dari kelima label tersebut secara langsung.

(BACA JUGA: Usai Diprotes, Met Gala 2027 Batalkan Dedikasi untuk John Galliano)

Langkah berikutnya pun sudah mulai dipikirkan. Setelah pop-up Harrods, Brand63Africa berencana mencari cohort desainer berikutnya sekaligus mengeksplorasi peluang pop-up di berbagai pasar internasional, termasuk Paris, Asia dan kawasan Gulf.

Bagi Omaghomi, babak barunya bukan sekadar tentang berpindah dari dunia kerajaan ke fashion. Ia sedang menggunakan pengalaman, jaringan dan akses yang dimilikinya untuk membuka pintu bagi kreator lain.

Dan mungkin di situlah inti Brand63Africa. Bukan menciptakan definisi baru tentang seperti apa fashion Afrika seharusnya terlihat, melainkan memastikan desainer dari Afrika dan diasporanya memiliki ruang untuk menentukan sendiri seperti apa cerita mereka di panggung luxury global.

(Kirana Putri, foto: wwd.com)

Share