Menurut penuturan ayah kandung pelaku, sejak kecil ia dibesarkan sebagai anak emas yang mungkin berpengaruh pada kondisi psikologisnya saat dewasa.
Kasus penganiayaan fatal yang dialami oleh seorang perempuan bernama Yuvita Tri Rezeki menjadi perbincangan panas di kalangan masyarakat.
Setelah diselamatkan oleh pemilik kos, pihak kepolisian pun akhirnya berhasil menangkap pelaku yang merupakan kekasih Yuvita bernama Taufik Hidayat. Di tengah bergulirnya kasus ini, Gubernur Jawa Barat, yakni Dedy Mulyadi, yang turut mengawal kasus ini berkesempatan untuk mewawancarai ayah pelaku.
Lewat wawancara yang diunggah di YouTube pribadi Kang Dedy (begitu ia akrab disapa), ayah pelaku bercerita panjang lebar soal bagaimana sosok Taufik menurut keluarga. Namun, dari sekian menit wawancara tersebut, ada satu hal menarik yang patut dibahas.
Yakni soal bagaimana Taufik dibesarkan oleh ayahnya. Konon, sejak kecil sang ayah selalu membela Taufik, termasuk saat ia melakukan kesalahan. Alasannya pun terdengar tidak masuk akal bagi banyak orang.
Menurut sang ayah, alasan kenapa ia selalu membela Taufik adalah karena sang anak disebut sebagai yang paling TAMPAN di antara anak-anaknya yang lain.
Menariknya, pola pembelaan tanpa batas ini terus berlanjut hingga Taufik dewasa. Bahkan sampai pada titik di mana ia pernah melukai ayahnya sendiri tanpa mendapat konsekuensi yang berarti.
Banyak warganet menilai pola asuh semacam ini sebagai akar dari minimnya empati yang ditunjukkan Taufik di kemudian hari. Pertanyaannya, apakah ada penjelasan psikologis yang bisa mendukung pengamatan ini?
GOLDEN CHILD SYNDROME
Setelah meneliti dan membaca berbagai jurnal serta artikel kesehatan psikologi, MOSTEAM menemukan sebuah istilah yang disebut dengan Golden Child Syndrome atau Sindrom Anak Emas.
Melansir dari Cleveland Clinic, seorang psikolog klinis bernama Kate Eshleman menjelaskan bahwa anak emas biasanya dilebih-lebihkan oleh orangtuanya, menerima ekspektasi tinggi, namun di sisi lain juga dilindungi dari kritik dan konsekuensi atas kesalahan yang mereka buat.
Menurut penjelasan dari Simply Psychology, dalam sistem keluarga yang berpusat pada satu sosok dominan, anak emas sering diposisikan sebagai cermin dari citra diri orangtuanya sendiri, bukan dicintai karena dirinya yang sebenarnya.
Akibatnya, anak yang tumbuh dalam pola ini cenderung kesulitan membangun identitas yang autentik karena terlalu lama hidup demi memenuhi peran yang sudah ditentukan untuknya.
(BACA JUGA: Putusnya Sooyoung dan Jung Kyung Ho Setelah 1 Tahun Bersama, Apakah Salah Pacaran Lama?)
KASIH SAYANG BERLEBIH BISA MELAHIRKAN NARSISME
Salah satu riset paling relevan datang dari psikolog Eddie Brummelman dari University of Amsterdam bersama Brad Bushman dari Ohio State University, yang dipublikasikan di jurnal PNAS.
Studi jangka panjang yang melibatkan ratusan anak dan orangtua ini menemukan bahwa anak-anak yang terlalu dipuja orangtuanya, dipandang lebih istimewa dan lebih berhak dibanding anak lain, cenderung tumbuh dengan kecenderungan narsistik yang lebih tinggi di kemudian hari.
Yang menarik, riset tersebut menemukan bahwa fenomena ini berbeda dari sekadar kehangatan orangtua.
Brummelman dan tim menemukan bahwa rasa percaya diri yang sehat justru tumbuh dari kehangatan dan kasih sayang yang tulus.
Sementara narsisme justru muncul dari pemujaan berlebihan yang membuat anak merasa dirinya lebih istimewa dan lebih layak mendapat perlakuan khusus dibandingkan dengan orang lain.
Studi tersebut bahkan menjelaskan satu poin penting yang relevan dengan banyak kasus kekerasan. Di mana individu dengan kecenderungan narsistik biasanya merasa superior terhadap orang lain.
Namun, ketika mereka merasa dipermalukan atau ego mereka terancam, mereka cenderung melampiaskannya secara agresif, bahkan hingga melakukan tindak kekerasan.
KETIKA EGO YANG TERLUKA BERUBAH JADI AGRESI
Pola ini sejalan dengan apa yang tampak dalam kasus Taufik. Bertahun-tahun dibesarkan dengan pembelaan tanpa syarat membuatnya tidak pernah benar-benar belajar menerima penolakan atau kegagalan.
Ironisnya, semakin seseorang dibiasakan untuk selalu “menang” dan tidak pernah disalahkan, semakin rentan pula ia bereaksi secara berlebihan ketika dihadapkan pada situasi yang mengancam rasa superioritasnya.
Baik itu rasa cemburu, ditolak, maupun merasa tidak dihormati. Penjelasan dari Bay Area CBT Center juga menyebutkan bahwa tekanan untuk terus tampil sempurna sebagai anak emas dapat menumbuhkan ketergantungan emosional pada validasi orang lain.
Ketika validasi itu hilang atau terancam, sebagian individu dapat merespons dengan cara yang merusak, baik terhadap diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
POLA YANG PATUT DIWASPADAI
Penting untuk dicatat bahwa Golden Child Syndrome bukanlah penjelasan tunggal atas suatu tindak kekerasan dan bukan pula alasan untuk memaafkan tindakan kriminal siapa pun.
Sejumlah psikolog menegaskan bahwa istilah ini lebih merupakan kerangka untuk memahami dinamika keluarga, bukan vonis psikologis atas seseorang.
Proses hukum terhadap Taufik Hidayat sendiri masih berjalan dan keputusan akhir soal motif maupun pertanggungjawabannya tetap berada di tangan penegak hukum.
Namun demikian, kasus ini menjadi pengingat penting bagi orangtua. Bahwa kasih sayang yang tidak diimbangi dengan batasan, koreksi dan konsekuensi yang adil, pada akhirnya bisa menumbuhkan pribadi yang kesulitan berempati pada orang lain.
Sebuah pelajaran yang relevan jauh di luar konteks kasus hukum yang sedang ramai dibicarakan ini.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/freepik)
