Frekuensi seks ternyata tidak selalu soal angka. Ini penjelasan soal kebutuhan tubuh, usia, hingga kualitas hubungan.
Di usia dewasa, topik soal seks sering kali mulai dipandang berbeda. Bukan lagi sekadar urusan gairah atau romansa, tapi juga berkaitan dengan kesehatan fisik, emosional, hingga kualitas hubungan dengan pasangan.
Tidak heran jika banyak orang mulai bertanya. Sebenarnya, berhubungan seks yang “ideal” itu berapa kali? Apakah semakin sering semakin baik, atau justru ada batas tertentu yang dianggap sehat?
Pertanyaan ini cukup umum muncul, terutama di tengah banyaknya standar tidak realistis yang beredar di media sosial maupun budaya populer.
Menariknya, para ahli kesehatan seksual justru menilai bahwa tidak ada angka yang benar-benar mutlak.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Social Psychological and Personality Science, pasangan yang berhubungan seks sekitar satu kali dalam seminggu cenderung melaporkan tingkat kebahagiaan hubungan yang lebih tinggi dibanding dengan mereka yang lebih jarang.
Namun, penelitian tersebut juga menemukan bahwa frekuensi yang lebih tinggi tidak selalu otomatis membuat hubungan lebih bahagia. Artinya, kualitas hubungan dan kenyamanan kedua pihak tetap menjadi faktor utama.
Secara fisik, tubuh manusia sebenarnya memiliki kapasitas yang berbeda-beda tergantung usia, kondisi kesehatan, tingkat stres, hingga gaya hidup.
Melansir dari Cleveland Clinic, selama dilakukan secara aman dan tidak menyebabkan rasa sakit atau kelelahan berlebihan, berhubungan seks lebih dari satu kali sehari pun tidak selalu menjadi masalah.
Namun, pada beberapa orang, frekuensi yang terlalu tinggi dapat menyebabkan iritasi, kelelahan, atau menurunnya energi tubuh jika tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup.
Selain itu, libido setiap orang juga tidak sama. Menurut Mayo Clinic, dorongan seksual dipengaruhi oleh banyak faktor seperti hormon, kesehatan mental, kualitas tidur, hingga dinamika hubungan dengan pasangan.
(BACA JUGA: Standar Seks dari Layar Diam-diam Bisa Mengubah Cara Kita Menikmatinya)
Karena itu, membandingkan frekuensi hubungan seksual dengan pasangan lain sering kali justru tidak relevan. Ada pasangan yang nyaman dengan frekuensi tinggi, sementara yang lain tetap merasa dekat dan sehat meski tidak terlalu sering berhubungan seks.
Alih-alih fokus pada angka tertentu, banyak ahli justru menyarankan untuk memperhatikan beberapa hal berikut:
Apakah kedua pihak sama-sama nyaman? Karena, hubungan seks yang sehat seharusnya berlangsung atas dasar kenyamanan dan komunikasi yang baik.
Apakah tubuh tetap merasa fit? Jika tubuh mulai terasa terlalu lelah atau muncul rasa tidak nyaman, bisa jadi tubuh membutuhkan jeda dan pemulihan.
Apakah hubungan tetap terasa intim secara emosional? Kedekatan dalam hubungan tidak hanya dibangun lewat seks, tetapi juga lewat komunikasi dan kualitas waktu bersama.
Apakah aktivitas seksual dilakukan secara aman? Penggunaan proteksi dan menjaga kesehatan reproduksi tetap penting, terutama untuk mencegah infeksi menular seksual.
Pada akhirnya, tidak ada angka pasti tentang seberapa sering seseorang “harus” berhubungan seks. Yang lebih penting adalah menemukan ritme yang sehat dan nyaman untuk kedua pihak, tanpa tekanan untuk memenuhi standar tertentu.
Karena dalam hubungan yang sehat, kualitas sering kali jauh lebih penting dibanding kuantitas.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/jcomp)
