Fenomena “set-jetting” ini turut mengubah sejumlah destinasi tersembunyi jadi buruan wisatawan dunia, bahkan menjadi tren.
Kesuksesan film The Odyssey garapan Christopher Nolan ternyata tidak hanya berhenti di layar bioskop.
Sejak resmi tayang pada Juli 2026, film adaptasi epik Yunani kuno karya Homer ini mengubah lanskap-lanskap bersejarah menjadi fenomena travel global baru.
Para penggemar film mulai berbondong-bondong memburu lokasi syuting asli di balik film blockbuster tersebut, mendorong tren “set-jetting” atau perjalanan wisata yang terinspirasi dari lokasi syuting film, khususnya di Yunani, Italia, hingga Malta.
Data dari Holafly, penyedia layanan eSIM perjalanan, mencatat lonjakan minat wisata ke Yunani sebesar 72 persen secara tahunan hanya dalam seminggu usai film ini resmi tayang.
Angka ini bahkan hampir dua kali lipat dari pertumbuhan minat wisata global yang tercatat sebesar 38 persen di lebih dari 160 destinasi dunia.
Bahkan, pencarian Google untuk “Flights to Kalamata,” gerbang utama menuju lokasi syuting di kawasan Peloponnese, melonjak lebih dari 5.000 persen secara tahunan pada Juli 2026.
Fenomena serupa juga terjadi di Favignana, pulau kecil di lepas pantai barat Sisilia, Italia, yang menjadi lokasi syuting Ithaca, kampung halaman legendaris Odysseus dalam cerita.
Sutradara Christopher Nolan bersama production designer Ruth De Jong memilih Castello di Santa Caterina yang bersejarah sebagai representasi istana Ithaca, lengkap dengan pantai dan pulau kecil Preveto di sekitarnya yang turut tampil dalam film.
Menurut Kepala Sicilia Film Commission, Nicola Tarantino, Favignana diproyeksikan menghasilkan lebih dari 500 juta dolar AS pendapatan pariwisata jangka panjang, dengan estimasi awal sekitar USD 287 juta atau sekitar IDR 5,17 triliun dalam tiga tahun ke depan.
Media Italia bahkan menjuluki fenomena ini sebagai “efek Nolan,” mengingat dampaknya yang jauh lebih besar dibanding lonjakan wisatawan yang pernah dipicu serial televisi populer sekalipun.
Sebagai perbandingan, serial The White Lotus musim kedua yang mengambil lokasi syuting di Taormina, Sisilia, sejauh ini telah menghasilkan windfall pariwisata senilai USD 158 juta dolar.
(BACA JUGA: Mengintip Pulau Malta, Kecil Tapi Padat Akan Sejarah Dunia)
Sementara itu, The Odyssey diperkirakan bisa menghasilkan lebih dari dua kali lipat jumlah tersebut khusus untuk Favignana saja.
Selain Yunani dan Italia, Gozo, pulau kecil di Malta, turut merasakan dampak positif dari kesuksesan film ini.
Gozo diasosiasikan dengan pulau mitologis Calypso, tempat Odysseus konon pernah ditahan selama tujuh tahun dalam perjalanan panjangnya kembali ke Ithaca, sehingga ikut menjadi incaran wisatawan yang penasaran dengan lokasi-lokasi yang menginspirasi kisah legendaris ini.
Fenomena “set-jetting” yang dipicu oleh film The Odyssey ini menegaskan betapa besarnya pengaruh sebuah film terhadap keputusan traveling wisatawan modern.
Alih-alih sekadar mencari destinasi pantai atau resor mewah, wisatawan kini semakin tertarik membangun perjalanan mereka berdasarkan cerita, koneksi emosional dan makna historis.
Dan hal ini membuktikan bahwa layar lebar kini menjadi salah satu mesin pariwisata paling berpengaruh di dunia.
(Kirana Putri, foto: travelweekly.com)
