Bukan Sekadar Slogan, Budaya Gotong Royong Adalah Akar!

Aksi kirim rendang dari Sumatera Barat hingga bantuan spontan warga, bukti gotong royong masyarakat selalu selangkah lebih cepat.

Indonesia kembali diuji oleh krisis kemanusiaan dan lingkungan secara bersamaan.

Duka mendalam menyelimuti bagian timur Nusantara akibat bencana gempa bumi M7.7 yang meratakan permukiman warga di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara itu, wilayah Kalimantan kembali berjuang melawan pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di tengah situasi darurat ini, ada satu pemandangan yang selalu mengundang rasa haru sekaligus bangga. Bangkitnya budaya gotong royong.

Gerakan Warga Bantu Warga bukan sekadar tren media sosial, melainkan refleks sosial murni bangsa Indonesia yang langsung bergerak cepat tanpa harus menunggu prosedur kaku.

DAPUR RENDANG DI SUMATERA BARAT

Salah satu aksi solidaritas paling membanggakan datang dari masyarakat Sumatera Barat.

Mengetahui saudara-saudara di NTT sedang tertimpa musibah gempa, warga Minangkabau bersama pemerintah daerah dan berbagai lembaga swadaya masyarakat langsung kompak memasak dan mengumpulkan berton-ton rendang untuk dikirimkan ke lokasi pengungsian.

Rendang dipilih karena praktis, bernutrisi tinggi, serta tahan lama tanpa perlu dihangatkan di lokasi penampungan.

KILAS BALIK BENCANA ACEH

Nilai gotong royong mengingatkan kita pada aksi kemanusiaan saat bencana longsor di Aceh.

Kampanye donasi publik yang digalang kreator konten Ferry Irwandi melalui platform Kita Bisa awalnya hanya menargetkan angka IDR 1 miliar.

Namun, tingginya empati dan semangat gotong royong masyarakat membuat donasi terkumpul melonjak hingga lebih dari IDR 10 miliar dalam waktu singkat.

(BACA JUGA: Daftar Kemunduran Indonesia di Usia ke-81)

KONTRAS ANTARA KECEPATAN WARGA DAN ALUR BIROKRASI

Aksi gotong royong warga bekerja dengan prinsip sat-set karena langsung fokus pada kebutuhan perut dan keselamatan korban di lapangan.

Hal ini berbanding terbalik dengan alur bantuan resmi pemerintah yang kerap kali harus tertahan oleh kerumitan verifikasi berkas, rantai koordinasi antarlembaga, hingga formalitas birokrasi.

GOTONG ROYONG ADALAH NILAI LUHUR, BUKAN ALASAN NEGARA BERPANGKU TANGAN!

Sifat kedermawanan masyarakat Indonesia yang sangat tinggi adalah aset bangsa yang luar biasa.

Namun, para pengamat menekankan bahwa gotong royong adalah bentuk kepedulian warga, bukan alasan bagi birokrasi untuk melimpahkan seluruh kewajiban mitigasi dan penanganan krisis kepada dompet serta keringat rakyat.

MURNI SOLIDARITAS, BUKAN PENGGANTI TUGAS NEGARA

Aksi warga Sumatera Barat yang mengirimkan ton-tonan rendang ke NTT hingga penggalangan dana cepat warga adalah bukti betapa kuatnya ikatan sosial bangsa Indonesia.

Namun, kehebatan solidaritas warga ini seharusnya menjadi tamparan bagi penanganan bencana resmi agar bisa secepat, setransparan dan sefleksibel aksi rakyatnya di lapangan.

(Rendy Aditya, foto: dokumentasi viva.co.id)

Share