Dari video YouTube hingga film layar lebar, ‘Backrooms’ menjelma menjadi salah satu fenomena horor terbesar di kalangan Gen Z.
Kalau kamu pernah melihat gambar ruangan kosong dengan karpet kuning kusam, lampu neon yang berkedip dan lorong yang seolah tidak memiliki ujung, kemungkinan besar kamu sedang melihat ‘Backrooms’.
Berawal dari sebuah unggahan anonim di forum 4chan pada 2019, ‘Backrooms’ berkembang menjadi fenomena internet yang melahirkan ribuan cerita, video, gim, hingga akhirnya diadaptasi menjadi film oleh rumah produksi A24.
Menurut CNN, popularitasnya di kalangan Gen Z bukan hanya karena konsep horornya yang unik, tetapi juga karena berhasil memanfaatkan rasa takut yang sangat dekat dengan pengalaman generasi tersebut.
Berbeda dengan film horor yang mengandalkan hantu atau monster sebagai sumber ketakutan, ‘Backrooms’ justru memanfaatkan konsep liminal space.
Istilah ini merujuk pada ruang-ruang yang berada di antara satu kondisi dengan kondisi lainnya, seperti sekolah yang kosong saat malam hari, pusat perbelanjaan yang sepi, kantor tanpa penghuni, atau lorong hotel yang tampak tidak berujung.
Tempat-tempat tersebut sebenarnya tidak berbahaya, tetapi terasa asing karena biasanya dipenuhi aktivitas manusia. Ketika ruang itu kosong, muncul rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
Menurut para pengamat budaya yang diwawancarai CNN, pengalaman tumbuh besar di era pandemi membuat Gen Z memiliki hubungan emosional yang berbeda dengan ruang-ruang kosong tersebut.
Saat lockdown, sekolah, mal, taman bermain, hingga kantor mendadak sepi. Pemandangan yang sebelumnya terasa normal berubah menjadi asing.
Pengalaman kolektif inilah yang membuat banyak anak muda merasa ‘Backrooms’ bukan sekadar fiksi, melainkan representasi dari perasaan terisolasi, bingung dan kehilangan arah yang pernah mereka alami.
Fenomena ini semakin berkembang berkat karya Kane Parsons, kreator YouTube yang dikenal dengan nama Kane Pixels.
Pada 2022, saat masih berusia 16 tahun, ia mengunggah video pendek The Backrooms (Found Footage) yang dibuat menggunakan perangkat lunak animasi. Video tersebut viral karena berhasil menghadirkan suasana mencekam tanpa mengandalkan jumpscare berlebihan.
Hingga kini, serial Backrooms di YouTube telah ditonton ratusan juta kali dan menjadi salah satu contoh paling sukses dari genre analog horor, yaitu horor yang dibuat menyerupai rekaman VHS atau dokumentasi lama.
Kesuksesan di YouTube kemudian menarik perhatian Hollywood. A24 mengadaptasi Backrooms menjadi film panjang yang disutradarai langsung oleh Kane Parsons.
Film tersebut sukses besar di bioskop dan bahkan menjadi salah satu film horor dengan pendapatan tertinggi tahun 2026.
Keberhasilan ini juga membuka jalan bagi lebih banyak adaptasi horor yang berasal dari legenda internet, termasuk proyek film berdasarkan karakter Siren Head yang kini tengah dikembangkan.
Pada akhirnya, ‘Backrooms’ menunjukkan bahwa horor selalu berubah mengikuti zamannya. Jika generasi sebelumnya tumbuh dengan rumah berhantu atau monster klasik, Gen Z justru menemukan ketakutan dalam ruang-ruang yang tampak biasa.
Lorong kosong, lampu neon yang berdengung dan kantor tanpa penghuni menjadi simbol kecemasan baru yang terasa lebih dekat dengan kehidupan modern.
Mungkin itulah alasan mengapa ‘Backrooms’ begitu membekas. Bukan karena apa yang ada di dalamnya, tetapi karena kesunyian dan rasa asing yang membuat kita bertanya-tanya apakah tempat itu memang benar-benar kosong.
(Rendy Aditya, foto: wired.com)
