Kenapa Kita Baru Mengerti Lagu-Lagu Lama Saat Masuk Usia 30-an?

Atau… sebenarnya lagu-lagu itu sudah jujur dari awal, hanya kita yang belum cukup hidup untuk memahaminya?

Memasuki usia 30-an, ada satu momen aneh yang mungkin hanya benar-benar dipahami oleh diri kita sendiri. Momen itu biasanya datang tanpa aba-aba. Misalnya saat kita sedang menyetir sendirian, membereskan rumah, melamun di tengah hari, atau bahkan di situasi yang sama sekali tidak terduga.

Sampai sebuah lagu lama tiba-tiba muncul.

Lagu-lagu yang dulu kita putar keras-keras saat SMA. Lagu yang chorus-nya kita hapal di luar kepala. Lagu yang dulu terasa “ngena banget” meskipun, kalau jujur, kita sebenarnya tidak benar-benar mengerti apa yang sedang dinyanyikan.

Dulu, kita hanya tahu  ini enak, ini relate (katanya), ini “gue banget”. Lalu di usia 30-an, tanpa warning, lagu yang sama terasa… berbeda. Dan kita spontan berpikir:

“Wait… jadi maksudnya gini?”

“Eh, kok relate sih?”

Dan di situ, muncul satu pertanyaan sederhana: Kenapa?

Apakah lagunya yang berubah? Apakah liriknya tiba-tiba terasa lebih dalam? Atau… kita yang akhirnya cukup hidup untuk memahaminya? Jawaban singkatnya, secara psikologis dan neurologis, iya.

It’s literally your brain.

Saat remaja, bagian otak yang paling aktif adalah limbic system. Yakni area yang mengatur emosi, excitement, rasa diterima, dan pencarian identitas. Itu sebabnya, di usia belasan, kita lebih “merasakan” musik dibanding memahaminya.

Sementara itu, prefrontal cortex, yakni bagian otak yang berperan dalam memahami konteks, makna, emosi kompleks dan pengambilan keputusan, baru berkembang penuh di pertengahan usia 20-an.

Makanya dulu kita menikmati lagu dengan perasaan. Dan sekarang, kita mulai memahaminya.

Tapi bukan itu saja.

Otak kita juga punya kemampuan yang disebut autobiographical memory. Yaitu kemampuan untuk menyimpan pengalaman hidup dalam bentuk memori yang sangat personal dan musik punya cara unik untuk “mengunci” memori tersebut, seperti kapsul waktu.

(BACA JUGA: Album Musik yang Makin Tua Makin Easy Listening, Apa Rahasianya?)

@indiraauroraisabelle #mammamia #slippingthroughmyfingers #abba ♬ Slipping Through My Fingers – From 'Mamma Mia!' Original Motion Picture Soundtrack – Meryl Streep & Amanda Seyfried

Satu lagu bisa langsung membawa kita kembali ke 15 tahun lalu, bengong di kelas, road trip yang terasa sederhana, atau masa ketika hidup belum serumit sekarang.

Itu sebabnya, ketika lagu yang sama muncul lagi di usia 30-an, otak kita tidak hanya memproses musiknya. Tapi juga pengalaman, identitas, cinta, kehilangan, persahabatan dan semua hal kecil di antaranya.

Pada akhirnya, lagu yang dulu terasa “cool” sekarang berubah maknanya.

“Oh… ternyata ini tentang loneliness.”

“Oh… ternyata ini tentang burnout.”

“Oh… ternyata ini tentang trying to hold everything together.”

Padahal sebenarnya, tidak ada yang berubah. Bukan lagunya, bukan liriknya, bukan juga musisinya yang tiba-tiba jadi lebih jujur. Yang berubah adalah kita. Kita akhirnya punya cukup pengalaman untuk memahami apa yang sejak awal sudah mereka nyanyikan.

Karena di usia 16, kita hanya mendengar lagu. Tapi di usia 30, kita mulai hidup di dalam liriknya.

(Sonia Prameswari, foto: magnific.com/rawpixel.com)

Share