Ia disebut jarang mandi dan bau badan. Namun, sejarawan menilai sebagian besar klaim tersebut lebih dekat dengan mitos daripada fakta sejarah.
Selama bertahun-tahun, Ratu Elizabeth I menjadi salah satu tokoh sejarah yang kerap dikaitkan dengan berbagai cerita unik, mulai dari kebiasaannya yang disebut-sebut hanya mandi sebulan sekali hingga tubuhnya yang konon selalu diselimuti aroma parfum untuk menutupi bau badan.
Kisah-kisah tersebut terus beredar di buku populer, media sosial, hingga video sejarah di internet. Namun, benarkah Ratu Inggris yang memerintah pada 1558–1603 itu memang “jorok”? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Melansir dari Fake History Hunter, salah satu klaim yang paling sering muncul adalah bahwa Elizabeth I hanya mandi sebulan sekali. Bahkan, ia sering dikutip sebagai orang yang pernah berkata, “I bathe once a month whether I need it or not.”
Masalahnya, para sejarawan belum pernah menemukan bukti bahwa sang ratu benar-benar mengucapkan kalimat tersebut. Kutipan itu tergolong apokrif, yaitu ucapan yang terus diulang selama bertahun-tahun meski tidak memiliki sumber primer yang dapat diverifikasi.
Hingga kini, tidak ada catatan resmi dari era Tudor yang membuktikan bahwa Elizabeth I pernah mengatakannya.
Kalaupun Elizabeth I memang tidak sering berendam, hal itu sebenarnya bukan sesuatu yang tidak biasa pada abad ke-16. Saat itu, masyarakat Eropa memiliki pemahaman yang berbeda tentang kebersihan tubuh.
Banyak orang percaya bahwa terlalu sering berendam justru dapat membuka pori-pori dan membuat tubuh lebih mudah terserang penyakit.
(BACA JUGA: Who’s the Brain, Beauty and Behavior Woman? It’s Definitely Marie Curie!)

(britannica.com)
Sebagai gantinya, mereka membersihkan diri menggunakan kain basah, mencuci wajah dan tangan setiap hari, serta rutin mengganti pakaian dalam berbahan linen yang berfungsi menyerap keringat.
Praktik ini juga dilakukan oleh kalangan bangsawan, termasuk keluarga kerajaan.
Lalu, bagaimana dengan anggapan bahwa Elizabeth I memiliki bau badan yang tidak sedap? Sejarawan menilai tidak ada bukti yang menunjukkan sang ratu dikenal karena bau badannya.
Namun, beberapa catatan memang menyebut kondisi kesehatan giginya memburuk pada usia tua. Elizabeth dikenal sangat menyukai makanan dan minuman manis pada masa ketika gula masih menjadi barang mewah.
Akibatnya, banyak giginya menghitam, rusak, bahkan tanggal. Duta Besar Prancis André Hurault de Maisse, yang bertemu Elizabeth pada 1597, menulis bahwa giginya sudah tidak lengkap dan berwarna kekuningan.
Sementara itu, pengunjung asal Jerman, Paul Hentzner, menggambarkan giginya berwarna hitam. Kondisi tersebut kemungkinan menyebabkan napasnya tidak lagi segar, tetapi bukan berarti tubuhnya tidak terawat.
Fakta lain yang sering dikaitkan dengan Elizabeth I adalah kebiasaannya memakai riasan wajah putih yang sangat tebal. Setelah terserang cacar pada 1562, wajah sang ratu diyakini mengalami bekas luka yang kemudian ditutupi dengan kosmetik putih.
Salah satu produk yang populer saat itu adalah Venetian ceruse, campuran timbal putih dan cuka yang mampu menciptakan kulit pucat sempurna sesuai standar kecantikan era Tudor.
Meski belum ada bukti pasti bahwa Elizabeth selalu menggunakan produk tersebut, kosmetik berbahan timbal memang lazim dipakai oleh kalangan bangsawan pada masa itu, meski kini diketahui berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan kerusakan kulit dan keracunan timbal jika digunakan dalam jangka panjang.
Menariknya, Elizabeth I justru dikenal menyukai wewangian. Arsip sejarah menunjukkan bahwa parfum, bunga kering, hingga ramuan herbal menjadi bagian dari kehidupan istana Tudor.
Selain digunakan untuk memberi aroma harum pada tubuh dan pakaian, wewangian juga dipercaya dapat melindungi seseorang dari penyakit, karena pada masa itu banyak orang masih meyakini bahwa penyakit menyebar melalui udara yang berbau tidak sedap atau miasma.
Tidak heran jika parfum menjadi barang penting, bukan hanya bagi Elizabeth, tetapi juga bagi bangsawan Eropa pada umumnya.
(BACA JUGA: Salah Kaprah, Kisah ‘Romeo & Juliet’ Bukanlah Kisah Cinta)

Melihat berbagai fakta tersebut, julukan “Ratu Elizabeth I yang jorok” sebenarnya lebih banyak lahir dari penyederhanaan sejarah.
Memang benar standar kebersihan pada abad ke-16 sangat berbeda dengan masa kini, tetapi kebiasaan Elizabeth tidak bisa diukur menggunakan standar modern.
Ia hidup pada zaman ketika konsep mandi, kesehatan, hingga kecantikan memiliki pemahaman yang sama sekali berbeda.
Karena itu, menyebut Elizabeth I sebagai sosok yang jorok mungkin terdengar sensasional, tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan fakta sejarah yang diketahui para sejarawan saat ini.
(Kirana Putri, foto: historic-uk.com)
