Siapa Josephine Baker? Sosok yang Akan Diperankan FKA Twigs di Film Terbaru

Josephine Baker adalah salah satu perempuan hebat yang berhasil menulis kisah hidup paling luar biasa dalam sejarah dunia di abad ke-20.

Kabar besar datang dari dunia perfilman internasional. Melansir dari Variety, penyanyi FKA Twigs resmi dikonfirmasi akan memerankan Josephine Baker dalam sebuah film biopik yang disutradarai oleh Maïmouna Doucouré, sutradara di balik film kontroversial Cuties.

Film ini dijadwalkan mulai syuting pada musim gugur 2026 dan akan dipasarkan secara internasional melalui ajang Cannes Film Festival.

Yang membuat pengumuman ini terasa sangat tepat bukan hanya soal bakat FKA Twigs sebagai seniman multidimensi, tapi juga soal siapa Josephine Baker itu sendiri. Karena buat kamu yang mungkin tidak pernah mendengar namanya, ketahulah bahwa kisah hidup Josephine Baker jauh lebih luar biasa dari yang mungkin kamu bayangkan.

SIAPA JOSEPHINE BAKER?

Josephine Baker lahir bukan dengan nama yang kemudian dikenal di dunia. Melansir dari biography.com, ia lahir sebagai Freda Josephine McDonald pada 3 Juni 1906 di St. Louis, Missouri, dari seorang ibu yang bekerja sebagai tukang cuci dan ayah yang meninggalkan keluarga tidak lama setelah ia lahir.

Sejak usia delapan tahun, Baker sudah bekerja membersihkan rumah dan menjaga bayi untuk keluarga kulit putih yang kaya dan sering kali diperlakukan dengan buruk.

Kemiskinan dan diskriminasi adalah dua hal pertama yang ia kenal sebelum mengenal panggung. Melansir dari cia.gov, pada usia 13 tahun, Baker kabur dari rumah, menikah sangat muda, namun pernikahannya hanya bertahan setahun.

Tidak lama setelah itu, ia mulai mengasah kemampuan menarinya, bergabung dengan Jones Family Band dan kemudian menarik perhatian Dixie Steppers, sebuah rombongan vaudeville yang sedang tampil di St. Louis.

Baker naik ke panggung tanpa diundang untuk audisi spontan dan penonton bersorak, membuatnya mendapatkan tempat di rombongan tersebut keesokan harinya.

Tapi St. Louis dan Broadway hanyalah pembuka. Babak sesungguhnya dari kisah Josephine Baker dimulai ketika ia menginjakkan kaki di Paris.

Melansir dari Britannica, pada 1925, Baker pergi ke Paris untuk tampil di Théâtre des Champs-Élysées dalam La Revue Nègre dan memperkenalkan danse sauvage-nya ke Prancis.

Ia menjadi salah satu penghibur music hall paling populer di Prancis dan tampil di Folies-Bergère, di mana ia menciptakan sensasi dengan menari setengah telanjang dengan rok yang dihiasi pisang-pisangan.

Kostum rok pisang itu kemudian menjadi salah satu ikon visual paling dikenal dari era Jazz Age dan Baker sendiri menjadi bintang yang menyaingi siapa pun di Eropa. Para seniman dan intelektual era itu memanggilnya dengan berbagai julukan.

Mulai dari “Black Venus”, “Black Pearl”, “Bronze Venus” dan “Creole Goddess”.

Melansir dari National Museum of African American History and Culture, lebih dari itu, Baker adalah wanita Afrika-Amerika pertama yang membintangi film besar, pertama yang tampil dengan pemain terintegrasi di concert hall Amerika dan salah satu penghibur Afrika-Amerika pertama yang meraih ketenaran di film maupun di atas panggung.

(BACA JUGA: 5 Fakta Albert Einstein yang Mungkin Jarang Diketahui)

(Foto: britannica.com)

RAHASIA JOSEPHINE BAKER DI BALIK PANGGUNG

Josephine Baker bukan hanya penari, penyanyi dan aktris. Di balik lampu panggung, ia menyimpan satu peran lain yang tidak banyak orang ketahui hingga beberapa dekade setelah kematiannya.

Melansir dari cia.gov, selama Perang Dunia II, Baker bekerja untuk Résistance Prancis dan dinas intelijen Inggris serta Amerika Serikat.

Ia menyelundupkan pesan berkode yang dikirimkan kembali ke Prancis dari kekuatan lawan yang disembunyikan di dalam lirik lagunya. Ia juga menggunakan statusnya sebagai selebriti untuk menghadiri pesta-pesta diplomatik dan mengumpulkan informasi intelijen berharga.

Atas jasanya selama perang, Baker dianugerahi Resistance Medal oleh Komite Pembebasan Nasional Prancis, Croix de Guerre oleh militer Prancis dan dinobatkan sebagai Chevalier of the Legion of Honour oleh Jenderal Charles de Gaulle.

Seorang penari berbaju pisang yang juga mata-mata perang paling dihormati oleh jenderal tertinggi Prancis. Tidak banyak kisah hidup yang memiliki lompatan seperti itu.

Ketika perang berakhir, Baker tidak berhenti berjuang. Ia hanya mengganti medan pertempurannya.

Melansir dari France 24, Baker kembali ke Amerika Serikat untuk bergabung dalam gerakan hak sipil, menolak tampil di hadapan penonton yang tersegregasi dan memaksa banyak tempat pertunjukan untuk mengubah kebijakan mereka.

Pada 1963, ia berdiri di samping Martin Luther King Jr. di March on Washington, menjadi satu-satunya pembicara perempuan hari itu. Ia tampil mengenakan seragam Angkatan Udara Prancisnya yang dihiasi Legion of Honour.

Melansir dari NMAAHC, setelah pembunuhan Martin Luther King, Coretta Scott King mendekati Baker dan memintanya untuk mengambil alih kepemimpinan gerakan hak sipil. Baker menolak karena khawatir dengan kesejahteraan anak-anaknya.

Anak-anak yang dimaksud adalah Rainbow Tribe, dua belas anak yang ia adopsi dari berbagai negara dan ras di seluruh dunia.

Melansir dari biography.com, Baker percaya bahwa kelompok anak-anak ini bisa membuktikan bahwa kebencian rasial bukanlah sesuatu yang alami, melainkan sebuah penemuan manusia.

“Idenya datang padaku setelah menyaksikan begitu banyak kesalahpahaman di antara manusia. Aku yakin bahwa anak-anak yang masih polos akan menjadi contoh sempurna dari persaudaraan global,” katanya.

(BACA JUGA: Kisah di Balik Penyanyi Castrato yang Ternyata Tidak Seindah Suaranya)

(Foto: cia.gov)

AKHIR KISAH JOSEPHINE BAKER

Josephine Baker meninggal pada 12 April 1975 di Paris, tepat empat hari setelah merayakan ulang tahun ke-50 debut Paris-nya dengan serangkaian penampilan yang disambut dengan standing ovation. Ia pergi dalam keadaan penuh kemuliaan.

Dan 46 setelah kematiannya, Prancis akhirnya memberikan penghormatan tertinggi untuknya. Pada 30 November 2021, Baker dimasukkan ke dalam Panthéon di Paris sebagai wanita kulit hitam pertama yang menerima salah satu penghargaan tertinggi di Prancis.

Sekarang, kisahnya akan kembali hidup di layar lebar. Melansir dari IndieWire, film ini adalah pertama kalinya biopic Josephine Baker mendapat dukungan penuh dari keluarganya, termasuk putra-putranya Jean-Claude Bouillon Baker dan Brian Bouillon Baker, serta seluruh Rainbow Tribe.

Dan sebagai aktris yang akan memerankan sosok hebat ini, FKA Twigs mengatakan bahwa ia sangat tidak sabar untuk mewujudkan sosok Josephine Baker di dalam film.

“Saya tidak sabar untuk membawa perjuangannya, cintanya, kehilangannya, bakatnya dan kepahlawanannya ke layar lebar,” katanya seperti yang dilansir dari  The Hollywood Reporter.

(Kirana Putri, foto: artburstmiami.com, vogue.com)

Share