Fun Fact: 80% Penonton Tayangan Thriller dan Psikopat Adalah Perempuan

Docuseries pembunuh berantai hingga film psikologis paling gelap, ada alasan ilmiah mengapa perempuan justru yang paling banyak menontonnya.

Adolescence. Baby Reindeer. Monsters: The Lyle and Erik Menendez Story. American Nightmare. Dalam beberapa tahun terakhir, konten bergenre thriller, true crime dan psikopat tidak hanya merajai tangga streaming global, tapi juga mendominasi percakapan di media sosial, podcast, hingga meja makan.

Genre ini bukan sesuatu yang baru. Film psikologis tentang pikiran gelap manusia sudah ada sejak era Psycho (1960) karya Alfred Hitchcock. Tapi di era streaming, kemunculannya semakin masif, semakin detail dan semakin mudah diakses oleh siapa saja.

Serial tentang pembunuh berantai, docuseries rekonstruksi kejahatan nyata, film thriller psikologis yang membuat penonton tidak bisa tidur, semuanya kini hanya sejarak satu klik dari layar kita.

Dan yang menarik bukan hanya soal betapa banyaknya konten ini diproduksi. Tapi soal siapa yang paling banyak menontonnya.

Genre true crime dan thriller adalah salah satu mesin pertumbuhan terbesar di industri streaming global saat ini.

Digital i, mengambil Netflix sebagai contoh, 15 dari 20 judul dokumenter teratas berdasarkan jangkauan penonton adalah konten true crime pada 2024, dibandingkan hanya enam judul pada 2020. Pertumbuhan yang signifikan hanya dalam empat tahun.

Dari sisi angka penonton, datanya tidak kalah mengesankan. Melansir dari Señal News, Baby Reindeer menjadi judul true crime dengan jangkauan tertinggi di Netflix pada 2024, ditonton oleh 70 juta akun di seluruh dunia.

Sedangkan Monsters: The Lyle and Erik Menendez Story berada di posisi kedua dengan 61 juta akun, sementara American Nightmare mencapai 53 juta akun.

Popularitas genre ini juga terlihat dari prestasi penghargaannya. Melansir dari Hollywood Reporter, konten true crime telah meraih lebih dari 60 nominasi Emmy dalam beberapa tahun terakhir, dengan Monsters: The Lyle and Erik Menendez Story saja meraih 11 nominasi dalam satu musim.

Dan dari sisi konsumsi yang lebih luas, melansir dari YouGov, 57 persen orang Amerika menyatakan mereka mengonsumsi konten true crime secara rutin.

Tapi di balik semua angka itu, ada satu fakta yang tidak banyak orang sadari. Yakni, mayoritas penonton genre ini adalah perempuan.

Melansir dari Psychology Today, audiens konten true crime ternyata didominasi oleh perempuan dengan jumlah yang sangat impresif. Yakni hingga 80 persen. Angka yang dikonfirmasi langsung oleh para eksekutif jaringan televisi yang berfokus pada genre ini.

Data dari berbagai format konsumsi mempertegas tren yang sama. Melansir dari Wonder Research, perempuan mendominasi konsumsi true crime di hampir semua format.

Tidak terkecuali pendengar podcast true crime, di mana 75 persennya adalah perempuan. Sebuah pembalikan tren yang menarik karena pada 2008 laki-laki justru 25 persen lebih banyak mendengarkan podcast jenis ini dibandingkan perempuan.

Dan melansir dari Her Campus, dalam survei terhadap 150 responden, sekitar 70 persen perempuan dan 30 persen laki-laki menyatakan mereka menikmati konten true crime.

Laki-laki memang tidak absen dari genre ini. Tapi perempuan dengan sangat konsisten mendominasi penontonnya, dan itu bukan kebetulan.

Lantas, apa alasan di balik para perempuan suka menonton tayangan genre ini?

(BACA JUGA: Lebih dari Sekadar Hiburan, Drama dan Serial Bisa Jadi Penyelamat di Tengah Kerasnya Hidup)

SURVIVAL INSTINCT: MENONTON UNTUK BELAJAR BERTAHAN

Melansir dari ResearchGate, perempuan lebih tertarik pada konten true crime karena mengandung informasi survival yang relevan.

Mengingat perempuan lebih sering menjadi korban kejahatan tertentu, menonton kisah kejahatan nyata berfungsi sebagai rehearsal psikologis untuk mengantisipasi ancaman di dunia nyata.

Dengan kata lain, bagi banyak perempuan, menonton thriller bukan hanya hiburan. Ia adalah cara untuk belajar mengenali tanda bahaya sebelum terlambat.

MERASA TERHUBUNG DENGAN KORBAN

Melansir dari MagellanTV, perempuan menyumbang sekitar 70 persen dari korban pembunuh berantai antara 1985 dan 2010.

Karena mayoritas kisah true crime menampilkan korban perempuan, penonton perempuan merasakan koneksi emosional yang jauh lebih kuat dengan narasi tersebut.

Melihat seseorang yang memiliki pengalaman hidup serupa menghadapi situasi ekstrem menciptakan rasa empati yang sangat intens dan personal.

RASA INGIN TAHU TERHADAP PSIKOLOGI KEJAHATAN

Melansir dari BYU Daily Universe, sebuah studi yang diterbitkan di Social Psychological and Personality Science menemukan bahwa perempuan lebih memilih konten true crime karena aspek edukatif dan psikologisnya.

Pertanyaan “apa yang membuat seseorang bisa melakukan hal seburuk itu?” adalah pertanyaan yang sangat manusiawi, dan genre ini menawarkan eksplorasi yang paling mendalam terhadap jawaban itu.

KEBUTUHAN AKAN RESOLUSI EMOSIONAL

Melansir dari Her Campus, konten true crime menawarkan apa yang banyak orang deskripsikan sebagai resolusi emosional.

Arc narasinya yang bergerak dari kejahatan, ke investigasi, lalu ke pertanggungjawaban memberikan rasa keadilan dan penutupan yang memuaskan secara psikologis.

Di dunia yang sering terasa tidak adil, menonton kejahatan yang akhirnya terungkap dan pelakunya dihukum memberikan kepuasan tersendiri.

FAKTOR KETAKUTAN YANG DIKELOLA DENGAN AMAN

Melansir dari Social Science Space, psikiater Jean Kim mencatat bahwa orang mengonsumsi konten true crime karena ia mengingatkan mereka betapa beruntungnya mereka dibandingkan para korban, membantu mereka merasa lebih teredukasi tentang cara menghindari situasi serupa, mengingatkan mereka pada moralitas mereka sendiri, dan membuat mereka merasakan empati terhadap korban.

Menonton ketakutan dari balik layar yang aman memberikan stimulasi adrenalin tanpa risiko nyata, sebuah kombinasi yang ternyata sangat menarik bagi banyak penonton perempuan.

(Kirana Putri, foto: shortlist.com)

Share