Spoiled Baby, Cara Tumbuh Seseorang yang Bikin Sulit Bertahan Hidup Saat Dewasa

Menjadi dewasa ternyata tidak sesederhana yang dulu dibayangkan. Di satu sisi, ada tuntutan untuk stabil. Seperti bertahan di satu pekerjaan, mengelola keuangan dengan bijak, dan perlahan membangun kehidupan yang mapan.

Tapi di sisi lain, realitanya sering terasa berbeda. Tidak sedikit orang yang merasa sulit bertahan lama di satu tempat kerja, mudah lelah secara mental, hingga kesulitan menabung karena setiap kali memiliki uang, muncul dorongan untuk “membahagiakan diri sendiri” sebagai bentuk kompensasi.

Bahkan, ketika dihadapkan pada beban finansial dari pihak eksternal, termasuk keluarga, respons yang muncul sering kali bukan kesiapan, tapi penolakan atau tekanan.

Dalam kondisi seperti ini, pertanyaannya bukan lagi soal mampu atau tidak, tapi kenapa proses beradaptasi dengan kehidupan dewasa terasa begitu berat?

Dalam perspektif psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan konsep low frustration tolerance, istilah yang diperkenalkan oleh psikolog Albert Ellis melalui pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT).

(BACA JUGA: Dikejar Target Financial Freedom Bikin Gen Z dan Millennials Cemas)

APA ITU RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY?

Melansir dari verywellmind.com, konsep ini menjelaskan bagaimana seseorang memiliki ambang toleransi yang rendah terhadap ketidaknyamanan, sehingga cenderung menghindari situasi yang terasa sulit atau tidak menyenangkan.

Kondisi ini dapat terbentuk dari lingkungan yang sejak awal memberikan tingkat kenyamanan tinggi, sehingga individu tidak terbiasa menghadapi keterbatasan atau proses yang membutuhkan waktu.

Dalam jangka panjang, hal ini berkaitan dengan kemampuan delayed gratification, yaitu kemampuan menunda kesenangan demi tujuan jangka panjang yang sejak lama diteliti dalam Stanford Marshmallow Experiment.

Studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengelola keinginan berpengaruh besar terhadap stabilitas finansial dan emosional di masa depan.

Selain itu, dalam kajian behavioral economics yang dipopulerkan oleh Daniel Kahneman, manusia cenderung membentuk standar kenyamanan berdasarkan pengalaman sebelumnya.

(BACA JUGA: Ubanan Sebelum 25? Cek 5 Kebiasaan Ini Dulu Sebelum Nyalahin Genetik!)

CARA MEMBERIKAN KESADARAN TERHADAP DIRI SENDIRI

Ketika seseorang terbiasa hidup dalam kondisi yang sangat terpenuhi, maka realitas yang lebih menantang akan terasa jauh lebih berat secara psikologis. Bukan karena tidak mampu, tapi karena titik awalnya berbeda.

Menyadari hal ini bukan berarti menyalahkan masa lalu, melainkan memahami bahwa kondisi hidup memang telah berubah. Apa yang dulu terasa normal belum tentu relevan dengan situasi sekarang.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membangun kesadaran bahwa ketidaknyamanan adalah bagian dari proses, bukan sesuatu yang harus selalu dihindari.

Dalam banyak pendekatan psikologi modern, termasuk yang dibahas oleh American Psychological Association, kemampuan untuk menghadapi stres secara bertahap justru menjadi kunci dalam membangun ketahanan mental.

Selain itu, penting untuk mulai melatih ulang kebiasaan. Mulai dari hal kecil seperti mengelola pengeluaran, membangun rutinitas, hingga belajar menunda keinginan. Tujuannya bukan sekadar bertahan (survival), tapi beradaptasi secara sadar dengan realitas yang ada.

Pada akhirnya, proses ini bukan tentang menjadi seseorang yang sepenuhnya berbeda, tapi tentang menemukan cara baru untuk hidup dengan versi diri yang lebih siap menghadapi apa yang tidak selalu nyaman.

(Kirana Putri, foto: freepik.com/freepik)

Share