Di Paris, membeli parfum bukan soal mencari aroma yang enak, tapi tentang menemukan identitas, memori dan fantasi hidup a la Parisian.
Ada alasan kenapa Paris selalu terasa dekat dengan dunia parfum.
Bukan cuma karena kota ini dipenuhi butik mewah dan rumah parfum legendaris, tapi karena di Paris, fragrance diperlakukan hampir seperti bagian dari identitas personal. Orang tidak sekadar “memakai wangi” mereka memilih aroma seperti memilih karakter diri mereka sendiri.
Dan menurut perfume expert Clémence Pelle dalam wawancaranya bersama BBC Travel, cara orang Paris membeli parfum pun berbeda dari kebanyakan turis.
PARISIAN TIDAK BLIND BUY
Salah satu kesalahan terbesar turis saat membeli parfum di Paris adalah datang dengan mindset shopping cepat. Cium sedikit, suka, lalu beli. Padahal buat banyak Parisian, memilih parfum adalah proses yang lambat.
Mereka biasanya mencoba parfum langsung di kulit, berjalan beberapa jam membiarkan aromanya berkembang, lalu kembali lagi jika masih terasa cocok. Karena parfum dianggap sesuatu yang hidup bersama tubuh, bukan sekadar produk di botol.
PARIS LEBIH MENARIK UNTUK NICHE PERFUME, BUKAN MAINSTREAM
Menurut banyak fragrance lovers, justru yang paling menarik di Paris bukan designer perfume yang bisa ditemukan di mana saja. Melainkan niche perfumery. Tempat-tempat seperti:
- Nose
- Jovoy Paris
- Liquides
Lebih sering direkomendasikan karena menawarkan pengalaman eksplorasi aroma yang jauh lebih personal.
Di toko seperti ini, staf biasanya tidak langsung menawarkan parfum “terlaris”. Mereka justru mencoba membaca personality, kebiasaan, bahkan mood pelanggan sebelum memberi rekomendasi.
(BACA JUGA: 5 Cara Memilih Parfum yang Tahan Lama)
PARFUM DI PARIS BUKAN TENTANG VIRALITAS
Menariknya, budaya parfum Paris terasa cukup bertolak belakang dengan internet culture sekarang. Di media sosial, parfum sering dibahas lewat:
- compliment factor
- longevity
- projection
- atau “smells rich”
Sementara di Paris, banyak orang justru memilih aroma yang lebih subtle dan personal. Tujuannya bukan agar semua orang mencium parfum mereka. Tapi agar aromanya terasa seperti bagian alami dari diri mereka sendiri.
Dan mungkin itu yang membuat perfume shopping di Paris terasa lebih intim dibanding sekadar luxury shopping biasa.
KOTA YANG DIBANGUN DARI AROMA
Paris sendiri memang punya sejarah panjang dalam dunia parfum.
Dari rumah parfum klasik seperti Guerlain hingga museum seperti Musée du Parfum, kota ini sudah lama menjadikan fragrance sebagai bagian dari kultur dan lifestyle sehari-hari.
Bahkan sekarang, ketika luxury fragrance market terus berkembang secara global, Paris tetap dianggap sebagai pusat emosional dunia parfum. Di mana tempat aroma diperlakukan lebih seperti seni daripada sekadar beauty product.
Dan mungkin itu alasan kenapa banyak orang pulang dari Paris membawa parfum.
Bukan hanya karena botolnya cantik atau aromanya mahal, tapi karena parfum terasa seperti cara paling mudah untuk membawa sedikit suasana Paris pulang bersama mereka.
(Annisa Larasati, foto: haussmann.galerieslafayette.com)
