Menurut ahli kesehatan dan berbagai jurnal ilmiah, ada penjelasan yang cukup kuat tentang fenomena bau ketiak dan keringat.
Bau ketiak adalah satu dari sekian banyak topik yang sering dianggap tabu untuk dibahas secara terbuka, padahal hampir semua orang pernah mengalaminya.
Mulai dari yang baru sadar badannya lebih bau dari biasanya, sampai yang panik karena merasa deodoran andalan tiba-tiba tidak memberikan efek lagi.
Fenomena ini sebenarnya jauh lebih umum dan lebih bisa dijelaskan secara ilmiah daripada yang banyak orang kira.
Pertanyaannya, apakah ketiak yang berbau itu sesuatu yang normal, atau justru tanda ada yang tidak beres dengan tubuh kita? Sebelum menjawab itu, penting untuk memahami fakta dasar soal keringat lebih dulu.
Banyak yang mengira keringat itu sendiri adalah sumber bau. Padahal sebenarnya keringat dalam bentuk aslinya tidak berbau sama sekali. Keringat sebagian besar terdiri dari air, garam dan sedikit senyawa lain yang diproduksi tubuh untuk mengatur suhu.
Tubuh manusia memiliki dua jenis kelenjar keringat utama, yaitu kelenjar ekrin yang tersebar di seluruh tubuh dan berfungsi mendinginkan tubuh, serta kelenjar apokrin yang jumlahnya lebih terbatas dan hanya terdapat di area tertentu.
Di sinilah ketiak punya peran khusus. Ketiak adalah salah satu lokasi utama tempat kelenjar apokrin terkonsentrasi, bersama dengan area genital dan beberapa lipatan tubuh lainnya.
Berbeda dengan keringat ekrin yang cenderung encer, keringat apokrin mengandung protein dan lemak dalam jumlah lebih tinggi.
Cairan inilah yang sebenarnya tidak berbau ketika baru keluar dari kelenjar, namun menjadi makanan empuk bagi bakteri yang secara alami hidup di permukaan kulit ketiak.
Bau yang muncul kemudian adalah hasil dari bakteri yang memecah protein dan lemak dalam keringat apokrin tersebut dan reaksi inilah yang menghasilkan aroma khas yang sering kita sebut bau badan.
Intensitasnya bisa dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari jumlah bakteri di kulit, jenis makanan yang dikonsumsi (seperti bawang, makanan pedas, atau kafein), tingkat stres, hingga perubahan hormon.
Faktor hormonal ini cukup signifikan karena kelenjar apokrin sangat sensitif terhadap fluktuasi estrogen dan progesteron.
Itulah sebabnya banyak orang merasa bau badannya lebih kuat di periode tertentu dalam siklus menstruasi, baik saat ovulasi maupun pasca-haid ketika tubuh sedang menyesuaikan kembali keseimbangan hormonnya.
(BACA JUGA: Kamu Tipe Orang yang Mudah Berkeringat? Bisa Jadi Kamu Mengidap Hiperhidrosis)
Jadi, kembali ke pertanyaan awal, normalnya ketiak itu bau atau tidak? Jawabannya, munculnya bau ringan di ketiak adalah hal yang sangat normal dan dialami semua orang, karena ini murni hasil kerja alami bakteri kulit terhadap keringat.
Bukan tanda kebersihan yang buruk atau masalah kesehatan. Yang membedakan satu orang dengan orang lain hanyalah intensitasnya, yang bisa dipengaruhi oleh genetik, pola makan, hingga kondisi hormonal seperti siklus menstruasi.
Selama bau itu masih dalam batas wajar dan tidak disertai gejala lain yang tidak biasa, itu hanyalah bagian dari cara tubuh bekerja. Bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/benzoix)
