Dokter Sepakat, Obesitas Kini Masuk Kategori Penyakit!

Setelah dianggap sebagai akibat dari pola hidup yang buruk, para dokter kini sepakat bahwa obesitas adalah gangguan kesehatan.

Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap obesitas hanya sebagai akibat dari pola makan yang buruk atau kurang berolahraga. Kalimat seperti “tinggal makan lebih sedikit” atau “lebih rajin berolahraga” sering menjadi respons pertama ketika seseorang mengalami obesitas.

Namun, pandangan tersebut mulai berubah.

Semakin banyak organisasi kesehatan dan dokter kini sepakat bahwa obesitas adalah penyakit kronis, bukan sekadar persoalan gaya hidup.

Perubahan cara pandang ini mungkin terdengar seperti persoalan istilah. Tetapi bagi jutaan pasien, dampaknya bisa sangat besar. Mulai dari cara dokter memberikan perawatan hingga berkurangnya stigma yang selama ini melekat pada orang dengan obesitas.

KENAPA OBESITAS KINI DIANGGAP PENYAKIT?

Dalam dunia medis, sebuah kondisi umumnya dikategorikan sebagai penyakit jika memiliki tanda, gejala, penyebab biologis dan berpotensi menimbulkan komplikasi kesehatan.

Obesitas memenuhi kriteria tersebut.

Selain ditandai dengan penumpukan lemak tubuh yang berlebihan, obesitas juga diketahui meningkatkan risiko berbagai penyakit lain. Seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, sleep apnea, penyakit hati, hingga beberapa jenis kanker.

Yang berubah dalam beberapa tahun terakhir adalah pemahaman mengenai penyebabnya.

Melansir dari WebMD, para peneliti kini mengetahui bahwa berat badan seseorang tidak hanya ditentukan oleh keseimbangan antara kalori yang masuk dan keluar.

Tetapi juga ada faktor genetik, hormon, fungsi otak, metabolisme, kualitas tidur, obat-obatan tertentu, kondisi psikologis, hingga lingkungan tempat seseorang tinggal, juga berperan dalam perkembangan obesitas.

Artinya, penyebab obesitas jauh lebih kompleks daripada sekadar “kurang disiplin”.

(BACA JUGA: Jenis Sayur Tinggi Serat untuk Diet)

BUKAN BERARTI ORANG BERTUBUH BESAR ADALAH PASIEN OBESITAS

Meski obesitas semakin diakui sebagai penyakit, bukan berarti setiap orang dengan tubuh besar otomatis dianggap sakit.

Inilah salah satu pembahasan penting yang kini berkembang di dunia medis.

Laporan terbaru dari The Lancet Diabetes & Endocrinology Commission mengusulkan agar dokter tidak hanya melihat angka Body Mass Index (BMI), tetapi juga mempertimbangkan apakah kelebihan lemak tubuh tersebut sudah mengganggu fungsi organ atau menimbulkan komplikasi kesehatan.

Dengan kata lain, dua orang dengan BMI yang sama belum tentu membutuhkan penanganan yang sama.

Pendekatan ini dinilai dapat membantu dokter memberikan perawatan yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing pasien, alih-alih hanya berpatokan pada angka di timbangan.

STIGMA MASIH MENJADI TANTANGAN TERBESAR

Meski pemahaman medis terus berkembang, stigma terhadap obesitas masih menjadi masalah yang nyata.

Banyak pasien mengaku merasa dihakimi saat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Keluhan yang sebenarnya tidak berkaitan dengan berat badan pun terkadang langsung dikaitkan dengan obesitas, sehingga pasien merasa enggan memeriksakan diri kembali.

Tidak sedikit pula yang menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal menurunkan berat badan.

Padahal, menurut para ahli, rasa lapar, metabolisme, hingga kecenderungan tubuh untuk kembali ke berat badan sebelumnya dipengaruhi oleh mekanisme biologis yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan dengan kemauan semata.

Penelitian juga menunjukkan bahwa dokter yang memandang obesitas sebagai penyakit cenderung memiliki bias yang lebih rendah terhadap pasien dibandingkan dengan mereka yang menganggap obesitas semata-mata sebagai persoalan gaya hidup.

Mengakui obesitas sebagai penyakit bukan berarti pola makan sehat dan aktivitas fisik menjadi tidak diperlukan.

Sebaliknya, para ahli menekankan bahwa perubahan gaya hidup tetap menjadi bagian penting dalam penanganan obesitas.

Namun, pada sebagian orang, perubahan tersebut mungkin perlu dikombinasikan dengan terapi lain, seperti pendampingan psikologis, obat-obatan, atau tindakan medis sesuai kondisi masing-masing.

Pendekatan ini juga membantu mengubah cara dokter berbicara kepada pasien. Fokusnya bukan lagi sekadar menyuruh pasien “menurunkan berat badan”, melainkan mencari penyebab yang mendasari dan menentukan terapi yang paling tepat.

(BACA JUGA: Tips Diet Tinggi Serat untuk Pemula)

CARA PANDANG BARU YANG LEBIH MANUSIAWI

Perubahan cara pandang terhadap obesitas membawa satu pesan penting. Kesehatan tidak bisa disederhanakan hanya menjadi soal angka di timbangan.

Obesitas memang berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit, tetapi penyebabnya sangat kompleks dan melibatkan faktor biologis, psikologis, sosial, hingga lingkungan.

Karena itulah, banyak organisasi kesehatan kini mendorong penggunaan people-first language, seperti “orang dengan obesitas” alih-alih “orang obesitas”, untuk mengurangi stigma dan menempatkan individu di atas diagnosisnya.

Pada akhirnya, mengakui obesitas sebagai penyakit tidak bertujuan memberi label baru kepada seseorang.

Tujuannya adalah memastikan mereka mendapatkan perawatan yang lebih tepat, akses terhadap pilihan terapi yang lebih luas dan yang tak kalah penting, diperlakukan dengan empati, bukan penghakiman.

(Kirana Putri, foto: pexels.com/moe magners)

Share