Prolonged Grief Disorder, Duka Jangka Panjang yang Mengubah Cara Kerja Otak

Sulit menerima kenyataan merupakan bagian dari proses berduka. Namun, bagi penderita PGD, perasaan ini bukan hal yang mudah untuk diproses.

Ketika ditinggal pergi untuk selamanya oleh orang yang kita sayangi dan cintai, memang sulit rasanya untuk membuat kita melangkah lagi. Paling tidak, butuh waktu untuk kita memproses semuanya.

Masa kedukaan setiap orang berbeda. Ada yang dalam hitungan hari, hitungan minggu, hingga hitungan bulan dan tahun.

Rasa duka tersebut mungkin tidak sepenuhnya hilang. Tapi seiring berjalannya waktu, kebanyakan orang perlahan mulai bisa beradaptasi dengan kehilangan tersebut.

Luka emosional mungkin tidak benar-benar hilang, tetapi intensitasnya biasanya berkurang sehingga hidup bisa kembali dijalani.

Sayangnya, hal ini tidak terjadi pada semua orang. Ada sebagian kecil orang yang sulit menerima bahkan hingga belasan atau puluhan tahun. Kondisi inilah yang dikenal sebagai Prolonged Grief Disorder (PGD) atau gangguan duka berkepanjangan.

Menurut Psychology Today, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini bukan hanya berkaitan dengan emosi, tetapi juga melibatkan perubahan pada sistem otak yang mengatur keterikatan dan penghargaan (reward).

APA ITU PROLONGED GRIEF DISORDER?

Masih dilansir dari situs yang sama, Prolonged Grief Disorder atau PGD merupakan gangguan kesehatan mental yang diakui dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) sejak 2022.

Berbeda dengan proses berduka yang normal, PGD ditandai oleh rasa rindu yang sangat intens terhadap orang yang meninggal, kesulitan menerima kenyataan, perasaan hampa, hingga sulit menemukan makna untuk melanjutkan hidup.

Gejala tersebut berlangsung lebih dari 12 bulan pada orang dewasa dan menyebabkan gangguan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Yang perlu dipahami bukan berarti seseorang “terlalu lama bersedih”. Justru pada PGD, otak tampaknya mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa orang yang dicintai benar-benar telah tiada.

(BACA JUGA: Fenomena ‘Griefbot’, Bisakah AI Membantu Seseorang Berduka?)

APA YANG MEMBUAT ORANG SULIT KELUAR DARI RASA DUKA?

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan menganggap PGD hanya sebagai bentuk kesedihan yang lebih berat. Kini, pemahamannya mulai berubah.

Penelitian menunjukkan bahwa pada orang dengan PGD, area otak yang berkaitan dengan reward dan attachment masih bereaksi seolah-olah orang yang telah meninggal masih bisa ditemui kembali.

Ketika melihat foto atau mengingat orang tersebut, sistem penghargaan di otak tetap mengirimkan sinyal “harapan” bahwa sosok itu masih akan kembali.

Akibatnya, otak mengalami semacam “mismatch”. Di satu sisi, seseorang tahu bahwa orang yang dicintainya telah meninggal. Namun di sisi lain, sistem saraf yang mengatur keterikatan belum sepenuhnya memperbarui informasi tersebut.

Inilah yang diduga membuat proses menerima kehilangan menjadi jauh lebih sulit.

BAGIAN OTAK APA YANG TERLIBAT?

Meski penelitian mengenai PGD masih terus berkembang, beberapa area otak mulai sering muncul dalam berbagai studi. Di antaranya adalah:

  • Nucleus accumbens, yang berperan dalam sistem penghargaan dan rasa ingin mendapatkan sesuatu.
  • Orbitofrontal cortex, yang membantu otak mengevaluasi harapan dan mengambil keputusan.
  • Amygdala, yang mengatur respons emosional.
  • Posterior cingulate cortex dan beberapa area lain yang berkaitan dengan memori serta refleksi diri.

Menariknya, pola aktivitas ini berbeda dengan yang ditemukan pada depresi atau gangguan kecemasan.

Meski memiliki beberapa kesamaan, PGD tampaknya memiliki ciri khas berupa keterlibatan sistem penghargaan yang tetap “mencari” orang yang telah tiada. Karena itulah banyak peneliti menyebut PGD sebagai gangguan yang unik, bukan sekadar bentuk lain dari depresi.

SIAPA YANG LEBIH BERISIKO MENGALAMINYA?

Untungnya, PGD bukan kondisi yang dialami semua orang yang berduka. Diperkirakan sekitar empat persen orang yang kehilangan orang terdekat berkembang menjadi Prolonged Grief Disorder.

Risikonya cenderung lebih tinggi apabila:

  • Kehilangan terjadi secara mendadak atau akibat kekerasan
  • Yang meninggal adalah pasangan hidup atau anak
  • Memiliki riwayat depresi
  • Mengalami beberapa kehilangan dalam waktu berdekatan
  • Memiliki dukungan sosial yang minim
  • Atau sangat bergantung secara emosional pada orang yang meninggal

Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan mengapa seseorang mengalami PGD sementara yang lain tidak.

DAMPAKNYA BUKAN HANYA PADA KESEHATAN MENTAL

Gangguan duka berkepanjangan ternyata juga dapat memengaruhi kesehatan fisik.

Penelitian menunjukkan bahwa PGD berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, gangguan kecemasan, penyalahgunaan zat, gangguan tidur, hingga masalah pada sistem kardiovaskular.

Beberapa studi juga menemukan bahwa respons stres yang terus-menerus dapat meningkatkan kadar hormon kortisol dan memicu peradangan kronis yang berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Itulah sebabnya para ahli kini memandang PGD sebagai kondisi kesehatan yang perlu ditangani, bukan sekadar sesuatu yang “akan hilang sendiri”.

(BACA JUGA: Mengapa Kita Sulit Memaafkan Keputusan Masa Lalu?)

APAKAH PROLONGED GRIEF DISORDER BISA DIOBATI?

Kabar baiknya, ya.

Berbeda dengan anggapan bahwa seseorang hanya perlu “lebih ikhlas”, penelitian menunjukkan bahwa terapi psikologis yang dirancang khusus untuk PGD dapat membantu banyak pasien.

Salah satu pendekatan yang paling banyak diteliti adalah Complicated Grief Therapy (CGT) atau terapi khusus untuk gangguan duka berkepanjangan.

Terapi ini membantu pasien secara bertahap menerima kenyataan kehilangan, mengelola kerinduan yang intens dan membangun kembali tujuan hidup tanpa harus melupakan orang yang telah meninggal.

Para peneliti juga sedang mengeksplorasi berbagai pendekatan lain, termasuk obat-obatan tertentu dan terapi berbasis stimulasi otak. Namun hingga kini, psikoterapi tetap menjadi pilihan utama dengan bukti ilmiah yang paling kuat.

BERDUKA ITU NORMAL, TAPI TIDAK PERLU DIJALANI SENDIRIAN

Tidak ada batas waktu yang pasti untuk berduka. Setiap orang memiliki cara dan ritme yang berbeda dalam menghadapi kehilangan.

Namun, ketika rasa kehilangan tetap terasa sangat intens setelah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, disertai kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut layak mendapat perhatian.

Mencari bantuan bukan berarti seseorang gagal menghadapi duka, melainkan memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk mendapatkan dukungan yang tepat.

Pada akhirnya, penelitian tentang Prolonged Grief Disorder mengingatkan kita bahwa duka bukan hanya persoalan hati. Ia juga melibatkan cara otak memproses keterikatan, kehilangan, dan kenyataan hidup.

Dan seperti kondisi kesehatan lainnya, ketika proses itu tidak berjalan sebagaimana mestinya, bantuan profesional dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan.

(Kirana Putri, foto: pexels.com/rdne stock project)

Share