Setiap pagi merasa anxiety buat bekerja atau merasa tidak punya masa depan, kalau kamu sedang di fase ini, percayalah kamu tidak sendirian.
Pernahkah kamu merasa hidup berjalan datar-datar saja? Tidak sampai depresi, namun juga jauh dari kata bahagia atau bersemangat?
Motivasi kerja menghilang entah ke mana, sulit berkonsentrasi dan setiap hari terasa seperti sekadar “dijalani” tanpa arah yang jelas. Apabila kamu mengalami hal ini, ternyata ada istilah psikologi yang tepat menggambarkan kondisi tersebut. Yakni languishing.
Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh sosiolog Corey Keyes pada awal 2000-an, namun baru benar-benar populer setelah psikolog organisasi Adam Grant menuliskannya dalam artikel opini di The New York Times pada 2021.
Menurut Grant, languishing merupakan kondisi stagnasi dan kekosongan, di mana seseorang merasa seolah menjalani hari-harinya sambil mengamatinya melalui kaca mobil yang berkabut.
BUKAN DEPRESI, TAPI BUKAN KONDISI YANG SEHAT
Melansir dari Forbes, languishing digambarkan sebagai kondisi kekosongan, apatis dan stagnasi. Perasaan sekadar “ada” tanpa keterlibatan aktif atau tujuan hidup yang jelas.
Grant sendiri menyebut languishing sebagai “anak tengah yang terabaikan” dalam kesehatan mental.
Kondisi ini berada di celah antara depresi dan flourishing (kondisi berkembang optimal), sehingga seseorang yang mengalaminya tidak menunjukkan gejala gangguan mental, tetapi juga belum berada dalam kondisi mental yang sehat sepenuhnya.
CIRI-CIRI YANG PERLU DIKENALI
Menurut penjelasan dari Innovative Human Capital, beberapa tanda bahwa seseorang mengalami languishing di tempat kerja antara lain merasa kehilangan makna dan tujuan dalam pekerjaan.
Misalnya merasa terlepas dari tugas dan tanggung jawab meski tetap menjalankannya, penurunan performa atau produktivitas, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Mulai menarik diri dari interaksi sosial dengan rekan kerja serta munculnya rasa bosan atau hampa yang sulit dijelaskan penyebabnya secara spesifik.
(BACA JUGA: Millennials & Gen Z, Hidup dengan Beban yang Diwariskan)
BERBEDA DENGAN BURNOUT
Banyak orang kerap menyamakan languishing dengan burnout, padahal keduanya berbeda. Menurut Be Well Co, languishing adalah kondisi keterlibatan dan tujuan hidup yang rendah. Perasaan “meh” yang menguras motivasi dan kebahagiaan. Sementara burnout merupakan respons emosional dan fisik yang jauh lebih berat akibat stres kronis berkepanjangan.
Dengan kata lain, languishing lebih mengarah pada rasa hampa dan datar, sementara burnout lebih mengarah pada kelelahan yang benar-benar menguras energi fisik maupun mental.
ALASAN FENOMENA INI SEMAKIN RAMAI DIBAHAS
Melansir dari Bed Threads, languishing sempat disebut sebagai emosi dominan yang banyak dirasakan masyarakat pada masa pandemi COVID-19. Terutama karena ketidakpastian yang membuat banyak orang enggan melakukan perubahan besar dalam hidupnya.
Tetapi di dalam hati menyadari bahwa perubahan tersebut dapat membawa kebahagiaan yang lebih besar. Meski pemicu awalnya sempat dikaitkan dengan pandemi, kondisi ini tetap relevan hingga saat ini, terutama di tengah tekanan dunia kerja yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.
CARA KELUAR DARI KONDISI LANGUISHING
Menurut psikolog yang dikutip Forbes, salah satu cara mengatasi languishing adalah dengan menciptakan kembali rasa tujuan dan koneksi dalam hidup.
Misalnya melalui refleksi nilai dan prioritas pribadi, membangun kembali hubungan yang bermakna, atau memulai dari langkah kecil yang memberi rasa pencapaian harian.
Fokusnya bukan pada upaya “menyembuhkan diri” secara instan, melainkan secara perlahan menyalakan kembali semangat yang selama ini terasa padam.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/magnific)
