Hati-hati, Kurang Tidur Bikin Otak Cepat Tua!

Menurut penelitian, kualitas tidur tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan tubuh, tetapi juga memperlambat penuaan otak.

Begadang sesekali mungkin terasa tidak terlalu berdampak. Namun, jika kurang tidur menjadi kebiasaan, efeknya ternyata bisa lebih besar dari sekadar mengantuk keesokan harinya.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal The Lancet eBioMedicine menemukan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan penuaan otak yang lebih cepat.

Bahkan, orang dengan kebiasaan tidur yang paling buruk memiliki kondisi otak yang tampak sekitar satu tahun lebih tua dibandingkan dengan usia biologisnya.

Meski penelitian ini tidak membuktikan bahwa kurang tidur secara langsung menyebabkan otak menua, temuan tersebut memperkuat bukti bahwa tidur berkualitas merupakan salah satu faktor penting untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis data sekitar 27.500 orang dewasa paruh baya hingga lansia dari UK Biobank.

Peserta menjalani pemindaian MRI otak dan menjawab berbagai pertanyaan mengenai kebiasaan tidur mereka, mulai dari durasi tidur, insomnia, kebiasaan mendengkur, rasa kantuk di siang hari, hingga apakah mereka cenderung menjadi “morning person” atau “night owl”.

Berdasarkan informasi tersebut, peserta dikelompokkan menjadi tiga kategori. Yakni orang dengan kualitas tidur baik, sedang dan buruk.

Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kualitas tidur paling buruk juga memiliki usia otak (brain age) yang terlihat lebih tua berdasarkan hasil pencitraan MRI.

(BACA JUGA: 8 Jam Belum Tentu Cukup, Ini Rahasia dari Tidur Berkualitas)

MENGENAL ISTILAH BRAIN AGE

Istilah brain age sebetulnya bukan berarti otak benar-benar memiliki usia yang berbeda. Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan teknologi pembelajaran mesin (machine learning) untuk memperkirakan seberapa “tua” kondisi otak seseorang berdasarkan hasil MRI.

Jika struktur otak seseorang terlihat seperti rata-rata orang yang usianya lebih tua, maka ia dikatakan memiliki brain age yang lebih tinggi.

Menariknya, penelitian menemukan bahwa setiap penurunan satu poin pada skor kualitas tidur berkaitan dengan peningkatan usia otak sekitar enam bulan.

Sementara kelompok dengan kualitas tidur terburuk memiliki brain age yang rata-rata sekitar satu tahun lebih tua dibandingkan dengan usia kronologis mereka.

Menurut Abigail Dove, Ph.D., salah satu penulis penelitian dari Karolinska Institutet, tidur memiliki banyak fungsi penting bagi tubuh.

Saat tidur, otak tidak benar-benar “beristirahat”. Justru pada saat itulah berbagai proses penting berlangsung, seperti:

  • mengonsolidasikan memori
  • membersihkan limbah metabolik dari jaringan otak
  • mengatur sistem kekebalan tubuh
  • serta membantu mengurangi peradangan di dalam tubuh

Penelitian ini juga menemukan bahwa peradangan kronis menjadi salah satu mekanisme yang menghubungkan kualitas tidur yang buruk dengan penuaan otak, meski bukan satu-satunya faktor yang berperan.

Kurang tidur dalam jangka panjang bukan hanya membuat seseorang lebih mudah lupa atau sulit berkonsentrasi.

Berbagai penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit seperti diabetes tipe 2, obesitas, penyakit jantung, hingga Alzheimer dan bentuk demensia lainnya.

Karena itu, para ahli kini melihat tidur sebagai salah satu fondasi utama kesehatan, sejajar dengan pola makan bergizi dan aktivitas fisik.

(BACA JUGA: Cara Meningkatkan Kualitas Tidur Tanpa Obat)

BERAPA LAMA WAKTU TIDUR YANG IDEAL?

Menurut rekomendasi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagian besar orang dewasa membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur setiap malam.

Namun, para ahli menekankan bahwa kualitas tidur sama pentingnya dengan durasinya. Tidur selama delapan jam tetapi sering terbangun di malam hari atau mengalami gangguan tidur belum tentu memberikan manfaat yang sama dengan tidur yang nyenyak dan teratur.

Para pakar menyarankan beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur, antara lain:

  • Tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari.
  • Mengurangi penggunaan ponsel atau perangkat elektronik sebelum tidur.
  • Membatasi konsumsi kafein pada sore dan malam hari.
  • Menjaga kamar tetap gelap, tenang dan sejuk.
  • Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami insomnia atau gangguan tidur yang berlangsung lama.

Di tengah gaya hidup yang serba sibuk, tidur sering kali dianggap sebagai waktu yang bisa “dipangkas” demi menyelesaikan pekerjaan atau menikmati hiburan.

Padahal, penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa tidur justru merupakan investasi penting bagi kesehatan otak.

Meski masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan sebab-akibatnya, satu hal mulai semakin jelas.

Yakni, menjaga kualitas tidur bukan hanya membantu tubuh terasa segar keesokan harinya, tetapi juga dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga fungsi otak tetap optimal seiring bertambahnya usia.

(Kirana Putri, foto: unsplash.com/slaapwijsheid.nl)

Share