Alasannya ternyata karena kesalahan sistem yang membuat penerbangan yang dimaksud mengalami kelebihan penumpang.
Bulan madu seharusnya menjadi momen pertama yang dinikmati pasangan setelah resmi menikah.
Namun, pengalaman itu justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Andy dan Katya Wedlake, pasangan asal Inggris yang mengaku dipaksa memulai bulan madu mereka secara terpisah akibat kebijakan maskapai penerbangan.
Pasangan tersebut dijadwalkan terbang dari London Gatwick menuju Tivat, Montenegro, menggunakan maskapai easyJet.
Meski tiket telah mereka pesan beberapa bulan sebelumnya, keduanya baru mengetahui saat tiba di bandara bahwa penerbangan mereka mengalami overbooking atau kelebihan penumpang.
KRONOLOGI KEJADIAN
Masalah bermula ketika Andy dan Katya gagal melakukan check-in secara online pada hari keberangkatan.
Sesampainya di konter easyJet di Bandara Gatwick, mereka diberi tahu bahwa pesawat telah terisi melebihi kapasitas. Petugas menjelaskan bahwa kursi baru akan tersedia apabila ada penumpang lain yang tidak datang hingga proses boarding selesai.
Di gerbang keberangkatan, maskapai kemudian meminta sukarelawan yang bersedia berangkat keesokan harinya. Hanya satu orang yang menerima tawaran tersebut, sehingga tersedia satu kursi kosong.
Andy dan Katya mengira keduanya akan dipindahkan bersama ke penerbangan berikutnya.
Namun, menurut Andy, petugas justru mengatakan bahwa salah satu dari mereka harus mengambil kursi tersebut.
Jika tidak ada yang naik pesawat, keduanya akan dianggap sebagai “no-show”, sehingga kehilangan hak untuk mendapatkan penerbangan pengganti maupun kompensasi.
Agar perjalanan mereka tetap bisa berlangsung, Katya akhirnya memutuskan naik pesawat menuju Montenegro seorang diri.
Sementara Andy kembali ke rumah mereka di London dan baru bisa menyusul istrinya dengan penerbangan berikutnya.
Keduanya akhirnya bertemu kembali sekitar 21 jam kemudian, tetapi kehilangan hampir satu hari penuh dari bulan madu yang telah lama mereka rencanakan.
Andy mengaku pengalaman tersebut menjadi awal bulan madu yang sangat mengecewakan.
Menanggapi kejadian tersebut, easyJet menyatakan telah menghubungi pasangan itu untuk menyampaikan permintaan maaf.
Maskapai juga mengonfirmasi bahwa Andy akan menerima kompensasi sebesar GBP 350 atau sekitar IDR 7,7 juta sesuai ketentuan yang berlaku. Ditambah kompensasi goodwill sebagai bentuk permintaan maaf atas pengalaman tersebut.
Dalam pernyataannya, easyJet menjelaskan bahwa praktik overbooking merupakan hal yang umum dilakukan di industri penerbangan.
Strategi tersebut didasarkan pada data penumpang yang biasanya tidak hadir saat keberangkatan, sehingga maskapai dapat mengoptimalkan keterisian kursi dan menjaga harga tiket tetap kompetitif.
Namun, perusahaan mengakui bahwa situasi yang dialami Andy dan Katya seharusnya ditangani dengan lebih baik, mengingat perjalanan tersebut merupakan bulan madu mereka.
Meski berhak menerima kompensasi, Andy menilai uang tersebut tidak sebanding dengan pengalaman yang mereka alami.
Menurutnya, yang paling mengecewakan bukanlah persoalan finansial, melainkan kenyataan bahwa ia dan istrinya harus menghabiskan hari pertama bulan madu di negara yang berbeda.
Andy juga mempertanyakan kebijakan overbooking pada rute yang hanya memiliki satu penerbangan per hari, terutama saat musim liburan ketika tingkat kehadiran penumpang cenderung sangat tinggi.
Kasus Andy dan Katya kembali menyoroti praktik overbooking yang masih lazim digunakan banyak maskapai di seluruh dunia.
Meski secara hukum penumpang yang ditolak naik karena overbooking umumnya berhak atas kompensasi dan penerbangan pengganti, pengalaman pasangan ini menunjukkan bahwa kebijakan tersebut tetap bisa menimbulkan dampak emosional yang tidak mudah digantikan oleh uang.
Bagi Andy dan Katya, bulan madu impian mereka memang akhirnya tetap terlaksana. Namun, awal perjalanan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan justru berubah menjadi kisah yang tidak akan mereka lupakan.
(Kirana Putri, foto: easyjet.com)
