Mengenal Barry Building, Bangunan Bersejarah yang Ditelantarkan

Ternyata, status landmark atau bersejarah tidak selalu cukup untuk menyelamatkan sebuah bangunan dari ancaman kepunahan.

Di berbagai belahan dunia, tidak sedikit bangunan bersejarah yang justru hidup dalam “kesengsaraan”.

Ada yang diabaikan negara, ada yang terlantar karena masalah finansial keturunan pemiliknya, hingga ada pula yang terjebak dalam sengketa hukum berkepanjangan antara pemilik dan pemerintah kota.

Salah satu contohnya adalah Barry Building, bangunan bersejarah di Los Angeles yang kini tengah menjadi sorotan.

Belakangan ini, Barry Building tengah menjadi pusat perhatian usai pemerintah Kota Los Angeles menyetujui izin penghancurannya pada Juni 2026, meski status landmark bersejarah masih melekat pada bangunan ini.

Keputusan tersebut memicu gugatan dari kelompok pelestari sejarah, Angelenos for Historic Preservation dan Los Angeles Conservancy, yang menilai proses persetujuan ini mengabaikan perlindungan lingkungan dan hukum pelestarian setempat.

Untungnya, upaya penghancuran ini berhasil ditunda sementara lewat keputusan darurat Komisi Warisan Budaya Los Angeles, yang memberikan masa tunda selama 180 hari untuk mencari alternatif pelestarian, sebelum akhirnya bangunan ini benar-benar dihancurkan.

(BACA JUGA: Selain Taj Mahal, 5 Bangunan Ini Juga Dibangun Sebagai Ekspresi Cinta Terhadap Pasangan)

SEJARAH BARRY BUILDING

Barry Building dibangun pada 1951 oleh arsitek Milton H. Caughey untuk pemiliknya kala itu, David Barry Jr., di masa kawasan Brentwood, Los Angeles, sedang berkembang pesat usai Perang Dunia II.

Bangunan komersial dua lantai ini menjadi salah satu dari sedikit karya Caughey yang bertahan, sekaligus merepresentasikan gaya arsitektur California Modern atau yang lebih dikenal sebagai Mid-Century Modern, gaya arsitektur khas yang populer di California pada pertengahan abad ke-20.

Keistimewaan bangunan ini terletak pada detail arsitekturalnya yang unik.

Barry Building memiliki pilotis atau kolom penyangga di lantai dua yang didesain seolah “melayang”, dipadukan dengan tangga melengkung yang tampak menggantung di udara.

Bangunan ini juga memiliki courtyard terbuka dua lantai yang dipenuhi tanaman tropis di bagian tengahnya, memadukan ruang indoor dan outdoor secara mulus.

Laporan Departemen Perencanaan Kota Los Angeles bahkan pernah menyebut bangunan ini mencerminkan “keindahan dan gaya khas ide-ide baru dalam arsitektur” pada masanya.

Sejak 1960, Barry Building menjadi rumah bagi toko buku bernama Brentwood Books yang kemudian berganti nama menjadi Dutton’s Bookstore.

(BACA JUGA: Edinburgh Dinobatkan Sebagai Kota Paling Ramah di Dunia)

Selama lebih dari dua dekade, toko buku ini menjadi tempat berkumpulnya para penulis besar dunia, seperti Kurt Vonnegut dan Isabel Allende, untuk membacakan karya sekaligus bertemu langsung dengan para penggemarnya.

Sayangnya, toko buku legendaris ini resmi tutup pada 2008, menandai berakhirnya salah satu era paling bersejarah dari bangunan ini.

Pada 2007, Barry Building resmi ditetapkan sebagai Historic-Cultural Monument #887 oleh Los Angeles City Council, menjadikannya salah satu dari sedikit bangunan komersial bergaya mid-century modern yang mendapat status kehormatan tersebut.

Menariknya, penetapan status ini awalnya berjalan mulus tanpa perlawanan berarti, bahkan pemilik bangunan kala itu, Charlie Munger, petinggi Berkshire Hathaway, turut mengakui “signifikansi arsitektural dan budaya yang luar biasa” dari bangunan ini.

Meski telah menyandang status landmark resmi, Barry Building tetap dibiarkan kosong dan terbengkalai sejak penyewa terakhirnya diusir pada 2016.

Selama lebih dari satu dekade, pemilik lahan terus berupaya mendapatkan izin penghancuran tanpa pernah menyertakan rencana pembangunan pengganti apa pun.

Kondisi ini menjadi pengingat nyata bahwa status bersejarah sekalipun ternyata tidak selalu cukup untuk melindungi sebuah bangunan dari ancaman kepunahan, terutama ketika berhadapan dengan kepentingan finansial pemiliknya sendiri.

(Rendy Aditya, foto: laconservancy.org)

Share