Belajar dari Minho SHINee, Rajin Olahraga Ternyata Belum Tentu Sehat

Kondisi tubuh Minho terungkap lewat sebuah video di channel YouTube-nya, kala ia memeriksakan diri ke klinik pengobatan tradisional di Korea.

Rajin berolahraga sering dianggap jaminan tubuh sehat. Tapi kasus yang dialami Minho SHINee membuktikan sebaliknya.

Dalam video yang diunggah di YouTube pribadinya pada 29 Juli 2026, terungkap bahwa setelah menjalani pemeriksaan kesehatan lewat tes delapan konstitusi tubuh di sebuah klinik pengobatan tradisional Korea, hasilnya cukup mengejutkan.

Dokter menemukan kadar enzim AST (Aspartate Transaminase) dalam darah Minho jauh di atas batas normal. Hal ini menjadi tanda adanya kerusakan pada otot akibat olahraga berlebihan yang biasanya hanya ditemukan pada atlet profesional.

Tidak hanya itu. Indeks arteriosklerosis atau pengerasan pembuluh darahnya juga tercatat lebih buruk dari perkiraan untuk pria seusianya. Kondisi ini diduga dipicu oleh stres fisik akibat rutinitas latihan tanpa istirahat memadai.

Kasus ini jadi pengingat penting bahwa niat baik untuk hidup sehat lewat olahraga, kalau dilakukan berlebihan, justru bisa berbalik menyerang tubuh sendiri.

Kondisi yang dialami Minho ini dalam dunia medis dikenal dengan istilah overtraining.

Yaitu kondisi fisik dan mental yang terjadi ketika tubuh tidak diberi cukup waktu untuk pulih usai latihan intensif. Overtraining bisa dialami siapa saja, mulai dari atlet profesional hingga masyarakat umum yang hobi berolahraga.

Ironisnya, banyak orang justru menganggap penurunan performa sebagai sinyal untuk berlatih lebih keras lagi, padahal langkah ini justru memperparah kondisi tubuh yang sebenarnya sedang butuh istirahat.

Sayangnya, tanda-tanda overtraining sering kali luput dari perhatian karena gejalanya mirip dengan kelelahan biasa.

(BACA JUGA: Tetap Bugar di Usia 56 Tahun, Ini Rahasia Jennifer Aniston)

Beberapa ciri yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Kelelahan yang tidak kunjung hilang meski sudah cukup istirahat
  • Performa fisik yang justru menurun meski intensitas latihan meningkat
  • Gangguan tidur seperti sulit terlelap atau sering terbangun di malam hari
  • Mood swing atau suasana hati yang gampang terganggu
  • Nafsu makan yang menurun drastis
  • Tubuh yang jadi lebih gampang sakit akibat imunitas menurun
  • Detak jantung dan tekanan darah yang tidak stabil

Dan seperti yang dialami Minho, indikasi arteriosklerosis juga menjadi tanda yang patut diperhatikan.

Cedera otot dan sendi yang berulang pun kerap muncul akibat proses pemulihan tubuh yang tidak maksimal.

Untuk mencegah kondisi ini, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan:

  • Pertama, kombinasikan latihan berat dan ringan secara bergantian, misalnya hari ini lari jauh atau angkat beban, lalu esoknya diselingi dengan yoga atau berenang.
  • Kedua, penuhi kebutuhan tidur sekitar 7-9 jam per malam, karena tidur berperan besar dalam memperbaiki sel-sel otot dan menyeimbangkan hormon tubuh.
  • Ketiga, perhatikan asupan nutrisi, terutama protein untuk perbaikan jaringan otot dan karbohidrat untuk mengganti energi yang hilang, tanpa lupa menjaga hidrasi tubuh.
  • Keempat, kenali batas fisik masing-masing individu, karena program latihan yang cocok untuk atlet profesional belum tentu aman diterapkan untuk pemula.
  • Terakhir, jangan ragu berkonsultasi dengan pelatih atau dokter spesialis olahraga untuk menyesuaikan program latihan sesuai kondisi tubuh masing-masing.

Kasus Minho SHINee menjadi pengingat bahwa olahraga yang sehat bukan soal seberapa keras atau seberapa sering kamu berlatih. Melainkan soal keseimbangan antara latihan dan pemulihan.

Mendengarkan sinyal tubuh sendiri, alih-alih memaksakan diri mengikuti tren atau tuntutan media sosial, jauh lebih penting demi menjaga kesehatan jangka panjang, bukan malah merusaknya.

(Rendy Aditya, foto: nme.com)

Share