John Mayer telah menghabiskan lebih dari satu dekade membangun sebuah organisasi yang berfokus pada kesehatan mental para veteran militer.
John Mayer sedang jadi topik pemberitaan hangat di Hollywood. Namun, bukan karena karya musiknya. Melainkan karena hal lain yang berkaitan dengan aksi sosialnya.
Melansir dari The Hollywood Reporter, Mayer baru-baru ini menerima penghargaan Philanthropist of the Year dalam ajang The Hollywood Reporter x Social Impact Summit 2026.
Penghargaan itu diberikan atas kiprahnya melalui Heart and Armor Foundation for Veterans Health, organisasi nirlaba yang ia dirikan untuk mendukung riset ilmiah mengenai post-traumatic stress disorder (PTSD), cedera otak traumatis (traumatic brain injury atau TBI), serta kesehatan veteran secara lebih luas.
Dalam sesi wawancara, Mayer menceritakan bahwa kepeduliannya terhadap isu veteran tidak muncul begitu saja. Titik baliknya terjadi ketika ia mengunjungi Wounded Warrior Barracks di Camp Lejeune, North Carolina.
Berbeda dengan kunjungan seremonial, Mayer datang tanpa agenda khusus dan menghabiskan waktu berbincang langsung dengan para veteran yang sedang menjalani pemulihan.
“Untuk pertama kalinya, saya benar-benar melihat secara langsung seperti apa PTSD dan traumatic brain injury. Saya terkejut karena kenyataannya jauh lebih kompleks daripada yang selama ini saya bayangkan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa luka akibat perang tidak selalu terlihat secara fisik.
Menurut Mayer, salah satu tantangan terbesar bukan hanya menyediakan layanan kesehatan, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang PTSD.
Ia mengatakan bahwa masih banyak orang yang memiliki gambaran sederhana tentang kondisi tersebut. Padahal setiap veteran dapat mengalami trauma dengan cara yang berbeda.
Di satu sisi, sebagian veteran enggan mencari bantuan karena khawatir dianggap lemah. Di sisi lain, masyarakat sipil sering kali tidak memahami bahwa dampak trauma bisa muncul dalam bentuk yang tidak kasat mata.
Karena itulah, Mayer memilih mendukung penelitian ilmiah agar pemahaman mengenai PTSD semakin berkembang dan penanganannya menjadi lebih efektif.
(BACA JUGA: Sering Disebut Nepo Baby, Gracie Abrams: Memang!)
Heart and Armor Foundation sendiri adalah organisasi yang pertama kali diumumkan kepada publik pada 2019. Namun, Mayer mengungkapkan bahwa ia telah mengembangkan organisasi tersebut sejak 2012 bersama para peneliti, dokter dan veteran.
Alih-alih hanya menggelar kampanye kesadaran, organisasi ini memilih mendanai penelitian yang dapat langsung diterapkan dalam layanan kesehatan veteran.
Sejak berdiri, Heart and Armor Foundation telah membantu mendukung berbagai publikasi ilmiah, mengembangkan program latihan fisik untuk penyandang PTSD, hingga menyusun alat lacak nutrisi bagi veteran perempuan.
Menurut Mayer, ia sengaja menunggu hingga organisasi tersebut memiliki hasil nyata sebelum memperkenalkannya secara luas kepada publik.
Meski kini aktif di bidang filantropi, Mayer tidak melihat musik dan advokasi sebagai dua dunia yang terpisah.
Dalam berbagai momen, ia mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai musisi memberinya kesempatan untuk bertemu banyak orang, termasuk komunitas veteran yang mungkin tidak akan ia kenal dalam kehidupan sehari-hari.
Pertemuan-pertemuan itulah yang kemudian mengubah perspektifnya dan mendorongnya untuk menggunakan platform yang ia miliki untuk mendukung isu yang menurutnya sering kali luput dari perhatian publik.
Penghargaan Philanthropist of the Year menambah daftar panjang kiprah John Mayer di luar dunia musik.
Di ajang yang sama, Stephen dan Ayesha Curry juga menerima penghargaan atas yayasan Eat. Learn. Play., sementara The Michael J. Fox Foundation dinobatkan sebagai Philanthropic Organization of the Year atas kontribusinya dalam penelitian penyakit Parkinson.
(Kirana Putri, foto: hollywoodreporter.com)
