Menurut ahli psikologi, penyesalan sering terasa lebih berat seiring waktu karena kita bertumbuh dan punya perspektif baru soal hidup.
Kemarin, ada sebuah konten di media sosial yang muncul di FYP tentang keinginan untuk “mengulang hidup dari awal”.
Ada yang berharap bisa kembali ke masa kuliah dan memilih jurusan berbeda. Ada yang ingin membatalkan hubungan yang ternyata berakhir menyakitkan. Ada pula yang menyesali keputusan finansial, pekerjaan, atau langkah hidup yang saat itu terasa benar, tetapi kini dianggap sebagai kesalahan besar.
Perasaan tersebut sebenarnya sangat manusiawi. Hampir setiap orang pernah melihat kehidupannya saat ini dan bertanya-tanya:
“Bagaimana kalau dulu aku memilih jalan yang berbeda?”
Terlebih ketika dampak dari keputusan tersebut terasa dalam jangka panjang dan memengaruhi banyak aspek kehidupan.
Namun menurut psikologi, alasan kita sulit memaafkan diri sendiri sering kali bukan karena keputusan itu benar-benar buruk. Masalahnya adalah kita menilai masa lalu menggunakan pengetahuan yang baru kita miliki hari ini.
Salah satu konsep psikologi yang paling sering dikaitkan dengan penyesalan adalah hindsight bias atau bias melihat ke belakang.
Fenomena ini membuat seseorang merasa bahwa hasil dari suatu peristiwa sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal, padahal saat keputusan tersebut dibuat, informasi yang tersedia jauh lebih terbatas.
Melansir dari American Psychological Association, psikolog Baruch Fischhoff, salah satu peneliti yang pertama kali mengkaji hindsight bias, menemukan bahwa manusia cenderung melebih-lebihkan kemampuan mereka dalam memprediksi masa depan setelah hasil akhirnya diketahui. Akibatnya, kita sering berkata kepada diri sendiri:
“Harusnya aku tahu ini akan terjadi.”
Padahal kenyataannya, versi diri kita di masa lalu tidak memiliki informasi yang kita miliki sekarang.
PENYESALAN MUNCUL KARENA KITA SUDAH BERUBAH
Ada alasan lain mengapa keputusan lama terasa begitu sulit diterima. Yakni karena kita sudah menjadi orang yang berbeda.
Nilai hidup, prioritas, pengalaman dan cara pandang seseorang akan terus berkembang seiring waktu. Keputusan yang terasa masuk akal saat berusia 20 tahun mungkin terlihat tidak logis ketika dilihat kembali pada usia 30 atau 40 tahun.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology, rasa menyesal sering muncul ketika seseorang menyadari adanya jarak antara dirinya saat ini dan dirinya di masa lalu.
Ironisnya, pertumbuhan pribadi yang membuat seseorang lebih bijak justru dapat membuatnya lebih kritis terhadap keputusan yang pernah diambil.
Dengan kata lain, alasan kita menyesali keputusan tertentu hari ini bisa jadi karena kita telah berkembang menjadi pribadi yang berbeda dari orang yang membuat keputusan tersebut.
(BACA JUGA: Millennials dan Gen Z Hidup dengan Beban yang Diwariskan)
MENGAPA KEPUTUSAN EMOSIONAL TERASA PALING MENYAKITKAN?
Banyak penyesalan terbesar dalam hidup berasal dari keputusan yang diambil saat emosi sedang tinggi.
Ketika seseorang sedang jatuh cinta, marah, kecewa, kesepian, atau takut kehilangan sesuatu, otak cenderung memprioritaskan kebutuhan jangka pendek dibandingkan dengan konsekuensi jangka panjang.
Menurut Harvard Medical School, emosi yang intens dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengevaluasi risiko dan membuat keputusan secara rasional.
Pada kondisi tersebut, bagian otak yang berperan dalam respons emosional sering kali bekerja lebih dominan dibandingkan dengan area yang bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pertimbangan jangka panjang.
Karena itulah, banyak keputusan yang saat itu terasa tepat, tetapi bertahun-tahun kemudian justru menjadi sumber penyesalan.
KITA TERJEBAK DALAM SKENARIO “SEADANYA”
Ketika menyesali sesuatu, otak memiliki kecenderungan untuk membangun versi kehidupan alternatif yang tampak jauh lebih baik.
Kita membayangkan bagaimana hidup akan berjalan jika memilih pekerjaan lain, pindah ke kota berbeda, tidak mengakhiri hubungan tertentu, atau mengambil kesempatan yang dulu dilewatkan.
Psikolog menyebut proses ini sebagai counterfactual thinking, yaitu kecenderungan membayangkan hasil yang berbeda dari apa yang benar-benar terjadi.
Masalahnya, skenario alternatif tersebut hampir selalu terlihat lebih sempurna karena hanya ada di dalam imajinasi. Kita jarang mempertimbangkan bahwa jalan yang tidak dipilih juga mungkin membawa masalah, kegagalan, atau penyesalan yang berbeda.
MENGAPA KITA SULIT MEMAAFKAN DIRI SENDIRI?
Menurut psikolog Kristin Neff, pelopor penelitian tentang self-compassion, banyak orang memperlakukan diri sendiri jauh lebih keras dibandingkan dengan orang lain.
Jika seorang teman membuat keputusan yang ternyata berdampak buruk, kita cenderung memahami konteks yang melatarbelakanginya. Kita mungkin berkata:
“Kamu sudah melakukan yang terbaik dengan apa yang kamu tahu saat itu.”
Namun, ketika kesalahan yang sama dilakukan oleh diri sendiri, standar yang digunakan sering kali jauh lebih kejam.
Kita menuntut versi diri di masa lalu untuk memiliki kebijaksanaan yang sebenarnya baru kita peroleh bertahun-tahun kemudian.
Menurut Neff, memaafkan diri sendiri bukan berarti menyangkal kesalahan atau menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, proses tersebut dimulai dengan mengakui bahwa manusia memang tidak bisa membuat keputusan sempurna setiap saat.
Ada satu hal yang sering terlupakan saat kita menyesali masa lalu. Yaitu tidak ada seorang pun yang membuat keputusan dengan mengetahui masa depannya.
Versi diri kita yang dulu hanya berusaha memilih berdasarkan informasi, pengalaman dan kapasitas emosional yang dimilikinya saat itu. Kita mungkin tidak selalu benar. Kita mungkin membuat keputusan yang ternyata membawa konsekuensi panjang.
Namun kita juga tidak memiliki kemampuan untuk melihat apa yang akan terjadi bertahun-tahun kemudian.
Mungkin itulah mengapa memaafkan diri sendiri terasa begitu sulit. Bukan karena kesalahannya terlalu besar, tetapi karena kita terus meminta versi diri di masa lalu untuk mengetahui sesuatu yang mustahil ia ketahui.
Dan mungkin, daripada terus berharap bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah satu keputusan, kita bisa mulai melihat masa lalu sebagai bagian dari proses menjadi diri kita yang sekarang.
Karena sering kali pertumbuhan tidak datang dari keputusan yang sempurna. Ia datang dari kemampuan untuk belajar hidup bersama keputusan yang pernah kita buat.
(Rendy Aditya, foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro)
