Pasca Bercerai, Solois Lyn Banyak Menghabiskan Waktu di Kamar Mandi. Apa Kata Psikologi?

Mulai dari makan, membaca, hingga merajut, semuanya ia lakukan di dalam kamar mandi. Apa yang sebenarnya terjadi secara psikologis?

Setiap orang memiliki cara berbeda untuk menghadapi perubahan besar dalam hidup.

Ada yang mencari ketenangan dengan bepergian, menghabiskan waktu bersama teman, atau menekuni hobi baru. Namun, bagi penyanyi Korea Selatan Lyn, tempat yang memberinya kenyamanan justru adalah kamar mandi.

Belakangan ini, Lyn menjadi perbincangan setelah tampil dalam acara SBS My Little Old Boy dan memperlihatkan kebiasaannya menghabiskan banyak waktu di kamar mandi.

Bukan hanya untuk mandi atau bersiap-siap, tetapi juga untuk makan, membaca buku, merajut, hingga bersantai seorang diri.

Kebiasaan ini menarik perhatian publik karena terjadi setelah perceraiannya dengan penyanyi Lee Soo pada 2025.

Banyak penonton mempertanyakan alasan di balik perilaku yang dianggap tidak biasa tersebut. Namun bagi Lyn, jawabannya sebenarnya cukup sederhana.

LYN MENGAKU MENEMUKAN KENYAMANAN DI KAMAR MANDI

Dalam penampilannya di program radio SBS Cultwo Show, Lyn menjelaskan bahwa kamar mandi merupakan ruang yang membuatnya merasa nyaman secara emosional.

Menurut laporan Koreaboo yang mengutip siaran tersebut, Lyn mengatakan bahwa kamar mandi adalah ruangan yang hangat dan menjadi ruang paling kecil di rumahnya.

“Secara emosional, tempat itu membuatku nyaman,” ungkap Lyn.

Ia juga mengaku tidak terlalu menyukai ruang yang terlalu besar. Bahkan, menurut pengakuannya, berada di tempat yang terlalu luas terkadang membuatnya merasa tidak nyaman hingga berpotensi memicu kepanikan.

Pernyataan tersebut membuat banyak orang mulai melihat kebiasaan Lyn dari sudut pandang yang berbeda.

Alih-alih sekadar kebiasaan unik, apa yang dilakukan Lyn mungkin berkaitan dengan cara seseorang mencari rasa aman ketika menghadapi perubahan besar dalam hidup.

(BACA JUGA: Putusnya Sooyoung dan Jung Kyung Ho Setelah 14 Tahun Bersama, Apakah Salah Pacaran Lama?)

(Foto: sports.khan.co.kr)

KENAPA RUANG KECIL BISA TERASA MENENANGKAN?

Dalam bidang environmental psychology atau psikologi lingkungan, para peneliti telah lama mempelajari bagaimana ruang fisik memengaruhi emosi dan perilaku manusia.

Secara umum, ruang yang kecil dan tertutup dapat memberikan rasa aman bagi sebagian orang karena lingkungan tersebut terasa lebih mudah dikontrol dan diprediksi.

Berbeda dengan ruang terbuka yang luas, ruang kecil biasanya memiliki lebih sedikit rangsangan visual, lebih private dan memberikan perasaan terlindungi dari dunia luar.

Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian orang memilih sudut tertentu di rumah sebagai tempat untuk menenangkan diri saat merasa stres atau kewalahan. Dan bagi Lyn, kamar mandi tampaknya berfungsi sebagai ruang semacam itu.

PASCA BERCERAI, BANYAK ORANG MENCARI “SAFE SPACE”

Psikolog menyebut bahwa setelah mengalami perubahan besar dalam hidup seperti perceraian, kehilangan orang terdekat, atau peristiwa yang mengguncang rutinitas sehari-hari, manusia sering mencari apa yang dikenal sebagai safe space.

Safe space bukan selalu tempat yang mewah atau ideal secara desain. Yang terpenting adalah tempat tersebut mampu memberikan rasa aman, nyaman dan kendali.

Bagi sebagian orang, safe space bisa berupa kamar tidur. Bagi yang lain, mungkin sebuah coffee shop favorit, mobil pribadi, taman, atau bahkan sudut tertentu di rumah.

Dalam kasus Lyn, kamar mandi tampaknya menjadi ruang yang memenuhi kebutuhan emosional tersebut.

Terlebih, kamar mandi merupakan salah satu area paling private di rumah. Tidak ada tuntutan sosial, tidak ada gangguan dari luar dan seseorang bisa berada di sana tanpa perlu berinteraksi dengan siapa pun.

(BACA JUGA: Susah Move On? Ini 7 Cara Melupakan Mantan Menurut Ahli)

KETIKA RASA AMAN MENJADI PRIORITAS

Menariknya, Lyn sendiri tidak pernah mengaitkan kebiasaannya dengan kebersihan, desain interior, atau alasan praktis lainnya. Sebaliknya, ia berulang kali menekankan aspek emosional.

Menurut laporan Koreaboo, Lyn mengatakan bahwa ruang yang terlalu luas justru membuatnya merasa tidak nyaman. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebutuhan utamanya bukanlah ruang fisik tertentu, melainkan perasaan aman yang diberikan oleh ruang tersebut.

Dalam situasi seperti ini, psikologi melihat perilaku tersebut sebagai bentuk adaptasi. Ketika seseorang sedang menghadapi perubahan besar atau masa transisi dalam hidup, otak sering mencari lingkungan yang terasa stabil dan dapat diprediksi.

Tempat-tempat seperti inilah yang kemudian membantu seseorang mengatur emosi dan mengurangi rasa cemas.

Apa yang dilakukan Lyn memang terdengar tidak biasa.

Namun, jika dilihat lebih jauh, banyak orang sebenarnya memiliki versi mereka sendiri tentang “kamar mandi Lyn”.

Ada yang hanya bisa merasa tenang ketika duduk sendirian di mobil sebelum masuk ke rumah. Ada yang selalu mencari kursi yang sama di coffee shop favoritnya. Ada pula yang membutuhkan sudut tertentu di kamar untuk membaca atau mendengarkan musik.

Tempat-tempat tersebut mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi memiliki makna emosional yang besar bagi pemiliknya. Karena pada akhirnya, yang dicari bukanlah tempat itu sendiri, melainkan rasa aman yang diberikannya.

Dan dalam masa-masa ketika hidup terasa berubah begitu cepat, menemukan satu ruang kecil yang membuat kita merasa tenang terkadang bisa menjadi hal yang sangat berharga.

(Kirana Putri, foto: deezer.com)

Share